Jusuf Kalla jelas-jelas kesal. Mantan Wakil Presiden RI itu geram dengan pihak-pihak yang menuduhnya menistakan agama Kristen, padahal ia tengah berceramah di lingkungan Masjid Universitas Gadjah Mada. Tuduhan itu muncul karena ia menggunakan istilah "syahid" dalam penjelasannya. Padahal, konteksnya waktu itu ia berbicara di hadapan jemaah masjid.
"Coba pahami dulu situasinya," ujar JK, Sabtu lalu.
"Ceramah saya kan ceramah Ramadan. Yang hadir ya orang muslim, di dalam masjid sebuah kampus. Lingkungannya terbatas dan intelektual. Harusnya itu yang jadi acuan," lanjutnya.
Sebelum masuk ke inti ceramah, JK lebih dulu memutar video tentang situasi konflik di Indonesia, seperti di Maluku dan Poso. Dari fakta di lapangan, situasinya sungguh mengerikan. Dan menurutnya, isu agama kerap kali jadi bumbu penyulut yang tak terhindarkan.
"Ini konflik yang kejam. Paling ganas. Dan seperti yang dikatakan tokoh agama tadi, agama masuk di dalamnya. Islam-Kristen berbuat begitu," tuturnya.
Isu agama itu, terang JK, bisa mendorong orang melakukan hal brutal. Pembunuhan terjadi. Bahkan tetangga yang biasa hidup rukun tiba-tiba saling membakar rumah. Ia pun teringat momen ketika turun langsung ke daerah rawan.
"Kami bertiga masuk ke situ untuk menenangkan. Saya tanya, berani tidak? Berani tidak, misalnya, Ade Armando ke situ?" jelas JK.
Ceramah yang jadi sorotan itu sendiri digelar di Masjid UGM. Undangannya datang sebagai bagian dari acara Ramadan tahun 2026, dengan tema besar tentang perdamaian.
"Jadi intinya, saya diundang bicara soal perdamaian. Saya jelaskan bahwa perdamaian adalah akhir dari sebuah konflik. Lalu saya uraikan akar-akar konflik itu, dari skala dunia seperti di Eropa, perang dunia, sampai yang terjadi di dalam negeri," paparnya panjang lebar.
Ia menjabarkan satu per satu: konflik ideologi di Madiun, masalah wilayah seperti Timor Timur, lalu persoalan ekonomi di Aceh. Hanya sebentar saja ia menyentuh konflik yang melibatkan sentimen agama.
Contoh yang diangkat adalah konflik Poso. Karena turun langsung, JK mengaku paham betul pemicunya. Salah satunya adalah pemahaman tentang "perang suci", dimana yang gugur dianggap syahid bagi muslim atau martir bagi kristen.
"Saya yang mendamaikan ini, malah dituduh menista agama? Jiwa saya taruhkan masuk ke daerah berbahaya itu. Saya tahu mereka berpikir ini perang agama. Yang meninggal dapat gelar syahid atau martir. Nah, karena saya ceramah di masjid, ya saya pakai istilah 'syahid'. Jemaah kan mungkin tidak akrab dengan istilah 'martir'," ungkapnya.
Menurutnya, esensi kedua istilah itu sebenarnya mirip: gugur karena membela agama. Hanya cara atau terminologinya yang berbeda.
"Kalau syahid kan mati membela agama. Martir juga begitu. Cuma istilah saja. Saya di masjid, ya pakai kata 'syahid' biar jelas," katanya.
Namun begitu, penjelasan panjang itu seolah tak berarti. Ceramahnya justru dipotong dan diedit sedemikian rupa untuk mendukung tuduhan penistaan. Hal inilah yang membuatnya murka. Bagaimanapun, ia merasa diri adalah bagian dari solusi, orang yang justru berjuang mendamaikan konflik di Poso, bukan provokator.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog Magelang, Pastikan Stok Beras Aman
INFID Kritik Garis Kemiskinan BPS dan Anggaran MBG yang Dinilai Tidak Berkelanjutan
Mantan Aktivis Kritik Dominasi Broker Politik dalam Praktik Money Politics
Profesor Hedar Soroti Tantangan Hukum Atasi Dampak Negatif Algoritma