tegasnya.
Intinya, insentif dinilai sebagai instrumen krusial. Bukan cuma untuk memulihkan pasar, tapi juga menjaga napas panjang industri otomotif nasional. Febri menambahkan, kebijakan ini nantinya bakal menguntungkan semua pihak. Bagi konsumen, insentif bisa bikin harga kendaraan lebih terjangkau, memperbaiki sentimen pasar, dan menjaga daya beli.
Walaupun bentuk dan rincian insentifnya belum dirumuskan, arahnya sudah jelas. Stimulus akan diutamakan untuk segmen menengah ke bawah dan mempertimbangkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Data terbaru dari Ditjen ILMATE memperkuat kegelisahan itu. Dari Januari hingga Oktober 2025, penjualan "wholesales" kendaraan bermotor cuma 635.844 unit. Angka itu turun 10,6% dibanding periode sama tahun lalu. Produksinya juga ikut merosot, jadi 957.293 unit dari sebelumnya 996.741 unit di 2024.
Jadi, situasinya memang cukup pelik. Industri butuh suntikan, pasar butuh stimulan, sementara mobil listrik impor terus mendesak dari segala penjuru.
Artikel Terkait
Singapura Luncurkan Visa Khusus untuk Talenta AI dan Teknologi Mulai 2027
Pemerintah Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Imbas Konflik
Gubernur DKI Siap Tertibkan Terminal Bayangan Jelang Mudik
Pengadilan Bebaskan Pengacara Junaedi Saibih dari Dakwaan Suap Hakim