Harga minyak mentah dunia melonjak, dan pemerintah Indonesia pun mulai bersiap. Pemicunya adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, AS, dan Iran, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz. Akibatnya, pasokan minyak Indonesia dari kawasan itu tersendat. Menanggapi hal ini, Kementerian ESDM terpaksa menghitung ulang anggaran subsidi energi yang sudah disusun.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tak bisa memastikan kapan krisis ini akan berakhir. Meski ada kabar bahwa ketegangan bisa mereda dalam hitungan hari atau minggu, Bahlil punya pandangan lain.
Ucapnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026) lalu.
Dampaknya langsung terasa di angka. Harga minyak mentah di pasar Asia, per Senin (2/3), sudah menyentuh level USD 80-81 per barel. Padahal, asumsi harga minyak dalam APBN kita cuma USD 70 per barel. Selisih itu, dalam hitungan Bahlil, berpotensi membebani anggaran subsidi energi. “Ini yang akan kita harus hati-hati,” katanya.
Namun begitu, situasi ini bukan cuma soal beban. Ada sisi lain yang juga diperhitungkan. Kenaikan harga minyak internasional atau ICP ternyata juga memberi tambahan pendapatan bagi negara, mengingat Indonesia masih memproduksi sekitar 600 ribu barel lebih per hari.
Artikel Terkait
DBS dan Mister Aladin Tawarkan Diskon hingga Rp250.000 untuk Liburan
Hakim Federal Batalkan Panggilan Paksa untuk The Fed, Sebut Tuduhan ke Jerome Powell Tak Berdasar
Arus Mudik di Gerem Cilegon Masih Sepi Jelang Puncak Lebaran 2026
AS Kerahkan 2.500 Marinir dari Jepang ke Timur Tengah, Kurangi Posisi di Indo-Pasifik