Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melancarkan serangan drone yang menyasar markas Armada Kelima AS di Bahrain. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap serangan militer Amerika Serikat di wilayah selatan Iran yang terjadi beberapa waktu sebelumnya.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menegaskan bahwa aksi tersebut baru merupakan tahap awal dari serangkaian tindakan balasan. “Tindakan balasan yang lebih besar akan dilakukan jika agresi berlanjut,” demikian bunyi pernyataan yang dikutip dari laporan media internasional pada Rabu (10/6/2026).
IRGC juga mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat telah melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi di Iran selatan, tepatnya di kawasan Jask, Sirik, dan Pulau Qeshm. Menurut kelompok paramiliter yang memiliki pengaruh besar di Iran itu, serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada infrastruktur telekomunikasi dan pasokan air setempat.
Sementara itu, pihak Amerika Serikat membenarkan tindakan militernya dan menyebutnya sebagai operasi defensif. Serangan itu dilakukan setelah sebuah helikopter Apache milik AS ditembak jatuh pada Selasa sebelumnya. Pusat Komando AS, atau Centcom, dalam pernyataannya menjelaskan bahwa pasukannya menyerang pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, dan situs radar pengawasan di dekat Selat Hormuz menggunakan amunisi presisi dari jet tempur Angkatan Udara dan Angkatan Laut.
“Pasukan AS tetap waspada dan siap untuk membela diri terhadap agresi Iran yang tidak beralasan,” tegas Centcom dalam pernyataan terpisah.
Pertempuran terbaru ini menambah daftar panjang ketegangan antara kedua negara di kawasan Teluk, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia. Belum ada pernyataan lebih lanjut dari masing-masing pihak mengenai kemungkinan eskalasi lebih besar dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
Lima Negara Catat Lonjakan Peringkat FIFA, Timnas Indonesia Naik ke Posisi 118
Chatib Basri Bantah Ekonomi Indonesia 2026 Setara Krisis 1998, Soroti Risiko Harga Pangan dan Kredibilitas Fiskal
Pembiayaan Cicil Emas BSI Melonjak 97,9 Persen, Tembus Rp16,93 Triliun di Tengah Tren Investasi Lindung Inflasi
Perusahaan China Incar Peluang Besar di Balik Target PLTS 100 GW Indonesia, Soroti Kebutuhan Teknologi Penyimpanan Energi