Ia menambahkan, "Ketika mereka merasa didampingi dan tidak berjalan sendiri, usaha mereka bukan hanya maju, tetapi hidup. Di situlah dampak pemberdayaan yang ingin kami hadirkan."
Dampak nyata program ini benar-benar dirasakan pelaku usaha. Sebut saja Devita Wijayanti, nasabah PNM asal Magelang. Usaha lumpianya berkembang pesat setelah mengikuti pembinaan.
"Sekarang saya bisa kirim ke luar daerah dan jualan lewat media sosial," ungkap Devita dengan semangat.
Omzetnya pun melonjak. Dari sebelumnya hanya Rp 1–2 juta per bulan, kini ia bisa meraup Rp 4–5 juta. Yang menarik, kisah Devita ini menunjukkan bagaimana klasterisasi tidak hanya memperkuat usaha, tapi juga memberdayakan perempuan secara ekonomi.
Di berbagai daerah, klasterisasi bahkan berkembang menjadi sentra ekonomi lokal dan mitra industri. Efeknya seperti riak di air satu keberhasilan bisa memicu dampak positif yang meluas bagi komunitas sekitar.
Artikel Terkait
Dubes Iran Akui Kondisi Selat Hormuz Mirip Masa Perang, Kapal Pertamina Masih Tertahan
Stasiun JIS Ditargetkan Beroperasi Juni 2026, Dukung Lonjakan Pengguna KRL
Gapensi Proyeksikan Kenaikan Biaya Konstruksi hingga 8% Akibat Lonjakan Harga Energi
Prancis Resmi Tarik Seluruh Cadangan Emas dari New York ke Paris