"Saya tak akan pernah mau berdamai dengan kebohongan, kepalsuan dan kezaliman," tegas Khozinudin.
Di sisi lain, tawaran serupa ternyata masif beredar. Khozinudin menyoroti sejumlah dialog di televisi, di mana iming-iming SP3 itu dijajakan. Kadang terang-terangan, kadang dengan bahasa yang samar.
"Semua kompak mengajak sowan ke Solo," lanjutnya.
Agendanya selalu sama: berdamai. Dan ujung-ujungnya, kata Khozinudin, ingin mengubah status ijazah palsu itu seolah-olah menjadi asli. Sebuah restorasi yang dia nilai mustahil dan tak bisa diterima.
Nada tulisannya terasa getir. Seperti seorang yang lelah dengan permainan politik tapi tak mau menyerah. Upaya pecah belah itu, baginya, justru membuktikan bahwa perjuangan mereka mulai mengganggu. Mulai ditakuti.
Dan pintu damai? Sudah dikunci rapat-rapat.
Artikel Terkait
Pengamat Desak Reshuffle, Soroti Kinerja Bahlil hingga Raja Juli
PSI Soroti Modal Politik Gibran: Pengalaman Wapres Jadi Aset Langka di Pilpres 2029
Buku Kontroversial Gibran Segera Diserbu ke Seluruh Anggota DPR
Fahri Sindir Anies: Gagasan Global South Itu Omongan Pak Prabowo yang Sudah Lama