"Saya tak akan pernah mau berdamai dengan kebohongan, kepalsuan dan kezaliman," tegas Khozinudin.
Di sisi lain, tawaran serupa ternyata masif beredar. Khozinudin menyoroti sejumlah dialog di televisi, di mana iming-iming SP3 itu dijajakan. Kadang terang-terangan, kadang dengan bahasa yang samar.
"Semua kompak mengajak sowan ke Solo," lanjutnya.
Agendanya selalu sama: berdamai. Dan ujung-ujungnya, kata Khozinudin, ingin mengubah status ijazah palsu itu seolah-olah menjadi asli. Sebuah restorasi yang dia nilai mustahil dan tak bisa diterima.
Nada tulisannya terasa getir. Seperti seorang yang lelah dengan permainan politik tapi tak mau menyerah. Upaya pecah belah itu, baginya, justru membuktikan bahwa perjuangan mereka mulai mengganggu. Mulai ditakuti.
Dan pintu damai? Sudah dikunci rapat-rapat.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir