Respons Netizen: Empati yang Dianggap "Minimalis"
Di media sosial, reaksinya beragam. Memang, si warga dalam video itu akhirnya mengucapkan terima kasih untuk rencana pengaspalan jalan. Tapi bagi banyak netizen yang menyaksikan, ada yang kurang dari momen itu: empati.
Mereka menyayangkan sikap Gibran yang terlihat terlalu santai bahkan cuek menghadapi persoalan mendesak warga. Bagaimana mungkin masalah harga BBM yang langsung membebani kantong rakyat dijawab dengan rencana pembangunan jalan? Keduanya penting, tapi urgensinya jelas berbeda. Bagi mereka, respons itu terasa seperti mengelak, tidak menjawab akar keluhan yang disampaikan.
Di sisi lain, ada juga yang membela. Mereka berargumen bahwa seorang pemimpin harus tetap tenang dan fokus pada solusi jangka panjang, bukan sekadar reaksi emosional. Tapi suara kritik tampaknya lebih dominan. Video itu terus dibagikan, memicu diskusi tanpa henti tentang komitmen "BBM Satu Harga" di Papua yang sepertinya masih jauh dari kenyataan.
Yang jelas, momen singkat di Wamena itu telah membuka kembali percakapan publik tentang gaya komunikasi dan kedekatan para pemimpin dengan persoalan rakyat sehari-hari. Sebuah pelajaran bahwa terkadang, yang diperhatikan publik bukan hanya apa yang diucapkan, tetapi juga bagaimana cara mengucapkannya.
Artikel Terkait
Rustam Effendi Buka Suara: Eggi Sudjana Bisa Sewaktu-waktu Balik Badan
Gerakan Rakyat Usung Anies, NasDem Sindir: Pemilunya Masih Lama
Diplomasi Tingkat Tinggi di Solo: Ketika Maaf Tak Perlu Diucapkan dalam Rekonsiliasi Politik
Blunder Kubu Jokowi: Pencabutan Tersangka Eggi-Damai Dinilai Justru Melemahkan