Laba Bersih PGN Anjlok 36,5% Meski Pendapatan Naik 4,9%

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:20 WIB
Laba Bersih PGN Anjlok 36,5% Meski Pendapatan Naik 4,9%

Laporan keuangan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk tahun 2025 baru saja dirilis, dan angkanya cukup menarik untuk dicermati. Di satu sisi, pendapatan perseroan justru naik 4,9 persen, mencapai hampir USD 4 miliar. Namun begitu, laba bersihnya malah anjlok 36,5 persen, tersisa USD 215,4 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun. Bandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai USD 339,4 juta.

Lalu, apa yang terjadi? Ternyata, ada dua hal utama yang menggerus profitabilitas perusahaan pelat merah ini. Pertama, beban pokok pendapatan membengkak lebih dari 8 persen, sehingga laba kotor ikut tergerus hampir 8 persen menjadi USD 698 juta. Faktor kedua cukup signifikan: adanya penyusutan nilai properti migas senilai USD 99,5 juta.

Penyusutan ini, menurut penjelasan perusahaan, adalah penyesuaian wajar nilai aset di anak usahanya yang bergerak di sektor hulu. Perubahan asumsi cadangan menjadi pemicunya. Langkah ini diambil untuk menyelaraskan dengan standar akuntansi dan regulasi yang berlaku sebuah bentuk kehati-hatian dan transparansi. Kabar baiknya, penyesuaian ini bersifat non-cash, jadi tidak memengaruhi arus kas operasional sehari-hari PGN.

Masih ada beban lain yang menekan, seperti rugi kurs USD 7,2 juta. Beban keuangan juga membesar, dari USD 75,3 juta di 2024 menjadi USD 99,5 juta di tahun lalu. Tapi di tengah tekanan ini, manajemen mengklaim tetap menjalankan disiplin ketat. Mereka berhasil menekan beban umum dan administrasi hingga 17 persen, setara dengan penghematan USD 33,3 juta.

Di sisi lain, dari sudut pandang operasional, kinerja PGN terlihat cukup solid. Volume niaga gas bumi tercatat 836 BBTUD, sementara transmisi gas naik 4 persen menjadi 1.609 MMSCFD, seiring dengan peningkatan penyerapan oleh pelanggan. Infrastruktur terus dibangun, dengan penambahan lebih dari 230 kilometer jaringan pipa distribusi gas sepanjang tahun lalu.

“Kami konsisten menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan arus kas dan portofolio, termasuk langkah selektif pada proyek prioritas,”

Demikian penjelasan Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, dalam keterangan resminya pada Jumat (6/3/2026).

“Strategi ini penting untuk memperkuat ketahanan korporasi dalam menghadapi tantangan ke depan,” tambahnya.

Arus kas dari aktivitas operasi memang turun 16,3 persen menjadi USD 657 juta. Penurunan ini terutama karena pembayaran ke pemasok yang membengkak dan beban operasi lainnya. Meski begitu, penerimaan dari pelanggan justru naik 7,1 persen, menunjukkan permintaan yang tetap sehat. PGN mencatat EBITDA sebesar USD 971,2 juta, yang mencerminkan fundamental bisnis inti yang masih tangguh.

Fajriyah menekankan, prioritas utama tetaplah menjaga keandalan penyaluran energi.

“Keandalan penyaluran gas bumi bagi pelanggan tetap menjadi prioritas utama PGN. Kami mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur gas dan LNG serta menerapkan pengelolaan volume secara adaptif,” ujarnya.

Di segmen lain, bisnis infrastruktur LNG menunjukkan tren positif. Volume regasifikasi melalui FSRU Lampung dan Terminal Arun melonjak 17 persen menjadi 254 BBTUD. Sementara di pasar global, PGN berhasil mengirim tujuh kargo LNG ke pasar internasional sepanjang 2025. Kontribusi anak perusahaan dan afiliasi juga menguat, terlihat dari kenaikan volume pemrosesan LPG dan pencapaian lifting minyak dan gas.

Singkatnya, tahun 2025 menjadi tahun yang penuh dinamika bagi PGN. Di balik tekanan pada laba bersih, perusahaan tetap menunjukkan ketahanan operasional dan komitmen pada ekspansi infrastruktur, sambil bersiap menghadapi tantangan di tengah gejolak industri energi.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar