Presiden Tanzania Samia Suluhu Hassan Menang Telak di Pemilu 2025
Presiden Tanzania, Samia Suluhu Hassan, secara resmi dinyatakan memenangkan pemilu dengan perolehan suara yang sangat signifikan, yaitu lebih dari 97 persen. Kemenangan ini diumumkan langsung oleh Komisi Pemilihan Umum Tanzania, yang mengukuhkan Hassan untuk memimpin negara dengan populasi 68 juta jiwa tersebut selama lima tahun ke depan.
Kemenangan Besar di Tengah Gejolak
Kemenangan telak Presiden Hassan ini menarik perhatian, karena jarang terjadi di kawasan Afrika Timur. Pencapaian serupa hanya dapat disamakan dengan Presiden Rwanda, Paul Kagame, yang juga rutin meraih suara mutlak dalam setiap pemilihan umum.
Namun, jalan menuju kemenangan ini tidak mulus. Proses pemilu diwarnai dengan aksi demonstrasi besar-besaran yang berujung kekerasan. Menurut laporan, ratusan orang tewas dalam unjuk rasa yang terjadi di berbagai wilayah Tanzania menjelang dan selama pemungutan suara berlangsung.
Laporan Pelanggaran HAM dan Korban Jiwa
Kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International, telah melaporkan serangkaian pelanggaran berat. Pola pelanggaran tersebut meliputi penghilangan paksa, penangkapan sewenang-wenang, hingga pembunuhan di luar hukum.
Partai oposisi utama, Chadema, memberikan pernyataan mengejutkan. Juru bicara mereka, John Kitoka, mengklaim bahwa sekitar 700 orang tewas sejak demonstrasi pecah pada akhir Oktober 2025. "Jumlah kematian di Dar es Salaam sekitar 350 dan di Mwanza lebih dari 200. Ditambah wilayah lain, totalnya sekitar 700," ujarnya. Meski angka ini belum dapat diverifikasi secara independen, sumber keamanan dan diplomatik mengonfirmasi bahwa korban jiwa memang mencapai ratusan orang.
Tuduhan Kecurangan dan Pembatasan Demokrasi
Hassan dan partai berkuasanya, Chama Cha Mapinduzi (CCM), menghadapi tuduhan kecurangan pemilu yang sistematis. Dua calon presiden dari kubu oposisi didiskualifikasi, sehingga Hassan hanya bersaing dengan 16 kandidat dari partai-partai kecil yang memiliki daya kampanye terbatas.
Protes atas proses pemilu yang dianggap tidak adil pun meluas ke berbagai kota, termasuk pusat ekonomi Dar es Salaam. Aparat keamanan, termasuk kepolisian dan militer, dikerahkan untuk membubarkan aksi demonstrasi. Pemerintah juga mengambil langkah-langkah tegas dengan menerapkan jam malam, memblokir akses internet, dan membatasi media sosial guna meredam tekanan publik dan mengontrol arus informasi.
Artikel Terkait
Saif al-Islam Gaddafi Tewas Ditembak di Kediamannya, Libya Berduka dan Bergejolak
Malam Kelam di Zintan: Saif al-Islam Gaddafi Tewas dalam Serangan Mendadak
Dokumen Bocor Ungkap Upaya Epstein Dekati Putin Lewat Jaringan Tingkat Tinggi
Bocornya Dokumen Epstein: Bali Masuk dalam Jejak Perjalanan Gelap