Isu tentang RKAB batu bara 2026 akhir-akhir ini ramai diperbincangkan. Intinya, ada rencana pengetatan suplai nasional yang cukup signifikan. Target produksi tahun depan dipangkas drastis, cuma sekitar 600 juta ton. Bandingkan dengan realisasi 2025 yang diprediksi mencapai 790 juta ton. Jelas, ini langkah besar.
Pemerintah, lewat kebijakan ini, sepertinya ingin mengatasi kelebihan pasokan. Tujuannya ganda: menopang harga batu bara di pasar global sekaligus mendorong pengelolaan yang lebih berkelanjutan. Menurut analis dari BRI Danareksa Sekuritas dalam riset 4 Februari lalu, pemerintah sedang menyiapkan masa transisi. Tujuannya agar operasional tambang tidak berhenti mendadak begitu saja.
Perusahaan tambang masih diberi ruang bernapas, boleh berproduksi hingga akhir Maret 2026 nanti. Tapi batasnya cuma 25 persen dari target baru. Setelah itu, kuota yang sudah dipangkas itu akan berlaku penuh.
Nah, poin pentingnya menurut BRI Danareksa: ini adalah sinyal pengetatan suplai, bukan indikasi permintaan yang melemah. Dampaknya ke emiten? Langsung terasa. Banyak yang sebelumnya mengajukan RKAB dengan angka agresif, tapi akhirnya dapat persetujuan kuota yang jauh lebih kecil. Risiko utamanya jelas: volume produksi turun, pertumbuhan pendapatan melambat.
Dalam jangka pendek, emiten yang sangat mengandalkan volume produksi besar pasti akan tertekan. Tapi, nggak semuanya hitam. Menurut pandangan BRI Danareksa, kebijakan ini mengubah "permainan".
"Permainan berubah dari sekadar mengejar volume menjadi kemampuan mempertahankan kuota besar saat harga menguat," begitu kira-kira kesimpulan mereka.
Faktanya, harga batu bara global sudah bereaksi. Acuan ICE Newcastle sempat naik sekitar 5 persen ke level USD117 per ton, dan menguat 11 persen sejak awal tahun. Ekspektasi pasokan ketat jadi pemicunya.
"Harga yang lebih baik bisa meningkatkan margin, khususnya bagi emiten dengan kuota yang relatif aman," kata BRI Danareksa.
Lalu, siapa saja yang dianggap berada di "zona aman"? Beberapa nama disebut. PT Adaro Andalan Indonesia (AADI) dinilai relatif aman, dengan produksi utama sekitar 65,2 juta ton dan pemangkasan yang tidak dominan. PT Bumi Resources (BUMI) juga diuntungkan, karena unit KPC dan Arutmin-nya tidak dipangkas. Estimasi produksinya sekitar 74 juta ton, jadi skala besarnya jadi keunggulan di saat pasokan mengetat. PT Indika Energy (INDY) lewat Kideco juga disebut siap menangkap manfaat kenaikan harga, dengan produksi aman sekitar 30 juta ton.
Di sisi lain, nasib beberapa emiten lain terlihat suram. Pemangkasan kuotanya dalam banget. PT Baramulti Suksessarana (BSSR) diperkirakan turun dari 6 juta ton jadi cuma 3,3 juta ton, terpangkas hampir setengahnya. PT Bayan Resources (BYAN) lebih parah, diproyeksikan anjlok dari 80 juta ton menjadi 38 juta ton, minus sekitar 53 persen. PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) juga termasuk yang terpangkas signifikan, bahkan disebut lebih dari 50 persen.
Jadi, kesimpulannya sederhana. Pemenang dalam skenario RKAB 2026 ini adalah emiten dengan kuota aman dan volume besar. Mereka punya peluang menjual di harga yang lebih menguntungkan. Sebaliknya, bagi yang kuotanya dipotong habis-habisan, kenaikan harga belum tentu bisa menutupi kerugian akibat hilangnya volume produksi.
Artikel Terkait
Kisah Evolusi Kucing: Dari Pemburu Liar ke Pendamping Setia Manusia
OJK Beri Tenggat 2029, Emiten Wajib Genjot Free Float ke 15 Persen
Pakaian Bekas Ilegal Disita Rp 248 M, Pemerintah Genjarkan Razia di Pelabuhan
Investor Global Berebut Proyek PLTN 7 Gigawatt di Indonesia