Saif al-Islam Gaddafi Tewas Ditembak di Kediamannya, Libya Berduka dan Bergejolak

- Kamis, 05 Februari 2026 | 02:15 WIB
Saif al-Islam Gaddafi Tewas Ditembak di Kediamannya, Libya Berduka dan Bergejolak

MURIANETWORK.COM - Saif al-Islam Gaddafi, putra mantan penguasa Libya Muammar Gaddafi, tewas ditembak di rumahnya di Zintan pada hari Selasa. Insiden yang digambarkan sebagai pembunuhan terencana ini kembali membuka luka lama dan mempertanyakan masa depan negara yang masih terbelah oleh konflik politik dan militer pasca-2011. Hingga kini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas kematian pria yang pernah dianggap sebagai pewaris rezim dan calon pemimpin Libya itu.

Kronologi dan Respons Otoritas

Menurut pernyataan dari kantor politik Saif al-Islam, kematiannya terjadi setelah empat pria bersenjata menyerbu kediamannya. Para penyerang diduga menonaktifkan sistem kamera pengawas terlebih dahulu sebelum melakukan penembakan. Insiden ini dengan cepat memicu ketegangan di wilayah tersebut.

Kantor Kejaksaan Agung Libya kemudian mengonfirmasi temuan forensik. Pihak berwenang menyatakan bahwa korban meninggal akibat luka tembak dan penyelidikan kriminal telah dibuka untuk mengidentifikasi pelaku.

"Penyelidikan sedang dilakukan untuk mengidentifikasi tersangka dan mengajukan kasus pidana," jelasnya.

Spekulasi Motif dan Pesan Terakhir yang Menggugat

Latar belakang pembunuhan ini masih diselimuti misteri. Tidak ada satupun kelompok bersenjata, termasuk Brigade 444 yang berafiliasi dengan kementerian pertahanan di Tripoli, yang mengaku terlibat. Mereka dengan tegas membantah memiliki personel di lokasi kejadian.

Beberapa hari sebelum tragedi, sebuah rekaman audio yang diklaim sebagai pesan terakhir Saif al-Islam beredar luas. Dalam rekaman itu, terdengar suara yang mengkritik keras tatanan politik Libya pasca-revolusi.

Ia mengungkapkan kekecewaan mendalam atas campur tangan asing dan mahalnya harga yang telah dibayar bangsa Libya. "Miliaran dolar hilang, ribuan orang tewas, dan Libya tidak mampu bertindak tanpa persetujuan kekuatan asing," ujarnya dalam rekaman yang belum dapat diverifikasi secara independen itu.

Pesan tersebut, beserta waktu kemunculannya yang berdekatan dengan pembunuhan, memicu berbagai spekulasi mengenai motif di balik aksi kekerasan ini.

Dari Pewaris Modern hingga Buronan Politik

Untuk memahami signifikansi kematiannya, perlu menengok kembali perjalanan politik Saif al-Islam. Sebelum 2011, ia adalah wajah modern rezim ayahnya. Berpendidikan Barat dan fasih berbahasa Inggris, ia sering menjadi ujung tombak diplomasi Libya, termasuk dalam negosiasi perlucutan senjata dan kompensasi korban Lockerbie.

Citra reformis itu hancur saat revolusi meletus. Ia berubah menjadi pembela paling vokal bagi pemerintahan ayahnya, mengeluarkan ancaman yang memicu kekhawatiran akan perang saudara. Pasca-jatuhnya rezim Gaddafi, hidupnya berliku: ditahan bertahun-tahun di Zintan, dihukum mati in absentia oleh pengadilan di Tripoli, hingga menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Meski dibebaskan pada 2017, ia kembali mengguncang panggung politik dengan mendaftar sebagai calon presiden pada 2021. Pencalonannya justru memicu perpecahan lebih dalam dan menjadi salah satu faktor yang menggagalkan proses pemilihan pada tahun itu.

Latar Belakang: Libya yang Terfragmentasi

Pembunuhan ini terjadi dalam konteks kebuntuan politik yang akut. Libya masih terbelah antara Pemerintah Persatuan Nasional di Tripoli yang diakui PBB dan Pemerintah Stabilitas Nasional di timur yang didukung oleh Khalifa Haftar. Upaya rekonsiliasi dan pemilihan umum terus terhambat oleh perselisihan mengenai pembagian kekuasaan dan pendapatan minyak.

Dalam vakum kekuasaan ini, Saif al-Islam berusaha memosisikan diri sebagai alternatif ketiga. Ia mengandalkan jaringan kesukuan dan sentiment nostalgia akan stabilitas era lama untuk membangun basis dukungan. Kematiannya bukan hanya menambah daftan panjang kekerasan di Libya, tetapi juga menghilangkan satu variabel kunci yang kontroversial sekaligus berpengaruh dari persamaan politik yang sudah sangat rumit. Masa depan negeri itu kini semakin tidak pasti, dengan pertanyaan tentang keadilan dan akuntabilitas yang masih menggantung tanpa jawaban.

Komentar