MURIANETWORK.COM - Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa diskusi antara Presiden Prabowo Subianto dengan mantan menteri dan wakil menteri luar negeri mengenai pembentukan Board of Peace atau Dewan Perdamaian berjalan konstruktif. Pertemuan yang digelar di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu (4/2/2026) itu bertujuan untuk menjajaki dan menyelaraskan arah politik luar negeri Indonesia, meski diwarnai beragam perspektif dari para peserta.
Pertemuan untuk Menyatukan Visi Diplomasi
Forum yang dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci, mulai dari pengamat hubungan internasional, akademisi, praktisi diplomasi, hingga pimpinan Komisi I DPR RI, digelar dalam suasana terbuka. Tujuannya jelas: mendengarkan masukan sekaligus membangun pemahaman bersama tentang langkah strategis Indonesia di panggung global. Sugiono menekankan bahwa Presiden Prabowo, sebagai kepala negara dan pemerintahan, memegang kedaulatan penuh dalam menentukan kebijakan luar negeri.
“Pertemuan ini dalam rangka menjelaskan, kemudian berdiskusi dan juga menyampaikan arah-arah politik luar negeri di mana beliau selaku kepala negara, kepala pemerintahan memegang kedaulatan penuh sebagai penentu arah kebijakan dan politik luar negeri Indonesia,” jelasnya.
Diskusi Dua Arah yang Memperkaya Perspektif
Menurut penuturan Menlu, dialog berlangsung dinamis dan dua arah. Berbagai pandangan dan pertimbangan dari para tokoh dilontarkan untuk memperkuat kerangka kebijakan yang sedang dirumuskan pemerintah. Meski muncul sudut pandang yang berbeda, esensi dari seluruh masukan tersebut dinilai koheren dan saling melengkapi.
“Masing-masing juga tadi beberapa tokoh menyampaikan pandangan mereka, kemudian pemikiran-pemikiran mereka, pertimbangan-pertimbangan yang pada intinya juga saya kira ya merupakan satu hal yang sebenarnya sudah koheren, sudah ada dalam pertimbangan dan pemikiran yang sama, sehingga diskusi yang terjadi menurut saya merupakan hal yang saling memperkuat,” ungkap Sugiono.
Tidak Ada Pro-Kontra, Hanya Ragam Sudut Pandang
Sugiono secara tegas menyanggah adanya narasi pro-kontra dalam forum tersebut. Ia mengakui adanya perbedaan perspektif, yang dalam dinamika diplomasi seringkali justru menjadi sumber kekayaan gagasan. Namun, perbedaan itu tidak lantas menciptakan polarisasi. Alih-alih, berbagai pemikiran itu justru bermuara pada titik temu yang sama mengenai arah politik luar negeri Indonesia ke depan.
Dengan demikian, pertemuan ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah langkah strategis untuk mengonsolidasikan visi diplomasi Indonesia dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan ahli di bidangnya.
Artikel Terkait
Anggota TNI Divonis Seumur Hidup atas Pembunuhan Berencana Terhadap Istrinya
Menlu: Diskusi Arah Politik Luar Negeri dengan Mantan Pejabat Berjalan Konstruktif
Wanita Tewas Ditikam Mantan Pacar di Sorong, Motif Diduga Kecemburuan
23 Warga Sipil Tewas dalam Serangan Udara Israel di Gaza Tengah Gencatan Senjata