Menurut sejumlah saksi di lokasi, Rara Istiati Wulandari begitu nama lengkapnya saat itu mengenakan kebaya hitam dengan sanggul. Ia terlihat sibuk menelepon ketika didekati para abdi dalem. Konon, ia sedang menunggu jemputan. Ekspresinya panik, seperti tak menduga akan diminta meninggalkan tempat.
Ritual yang jadi latar belakang peristiwa ini bukan sembarangan. Labuhan Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem adalah bagian dari peringatan 38 tahun kenaikan takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Prosesinya sakral. Dimulai dari serah terima ubarampe di Kantor Kapanewon Kretek, lalu doa bersama di Cepuri Parangkusumo, sebelum akhirnya berbagai sesaji dilarung ke Samudra Hindia. Ini adalah bentuk syukur dan permohonan keselamatan untuk keraton, masyarakat, dan negara.
Jadi, intinya sederhana. Keraton punya tata tertib yang harus dihormati semua pihak. Acara adat, apalagi yang sakral, bukan arena untuk aktivitas lain tanpa koordinasi. Aturan jelas, siapa pun wajib patuh.
Di sisi lain, viralnya video ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik sosok Mbak Rara dan besarnya minat publik terhadap ritual keraton. Tapi, dalam gelaran tradisi yang sudah berjalan ratusan tahun, protokol dan tata krama tetap yang utama.
Artikel Terkait
Kisah Florencia Lolita Wibisono: Dedikasi di Langit dan Rencana Bahagia yang Terkandas
Brooklyn Beckham Buka Suara: Saya Membela Diri untuk Pertama Kalinya
Ikan di Meja Imlek: Bukan Sekadar Hidangan, Tapi Doa Kelimpahan Rezeki
Jenazah Florencia, Pramugari Pesawat Hilang, Ditemukan di Jurang 500 Meter