Gaza Gelombang dingin ekstrem kembali menghantam. Dan di Jalur Gaza, situasinya bukan cuma soal cuaca. Di tengah reruntuhan dan tenda-tenda yang roboh, bencana kemanusiaan kian dalam. Kantor Media Pemerintah Gaza baru saja mengonfirmasi hal yang mengerikan: korban tewas akibat radang dingin sejak musim dingin mulai, sekarang sudah tujuh orang. Yang paling menyayat, semuanya anak-anak.
Ini terjadi dalam situasi pengepungan yang belum berakhir. Infrastruktur hancur berantakan. Tempat berlindung yang layak hampir mustahil ditemui.
Menurut data yang dirilis Pusat Informasi Palestina Rabu lalu, angka kematian akibat cuaca dan bangunan runtuh sejak perang dimulai hingga pertengahan Januari 2026, sudah mencapai 24 jiwa. Mereka semua adalah pengungsi di kamp-kamp darurat. Dan lagi-lagi, anak-anak yang paling banyak menjadi korban: 21 dari total itu.
Angka itu, bagi pemerintah setempat, adalah "indikator yang sangat berbahaya". Sebuah tanda dari tragedi yang kian menjadi-jadi.
Bayangkan saja. Angin kencang dan sistem tekanan rendah selama dua hari berturut-turut disebutkan telah merobohkan sekitar 7.000 tenda pengungsi. Ribuan keluarga yang sebelumnya sudah hidup serba kekurangan, kini benar-benar kehilangan atap. Mereka terpapar dingin yang menusuk tulang.
Faktornya kompleks, tapi jelas. Hampir tidak ada alat pemanas. Tempat tinggal yang layak sudah jadi barang langka. Selimut dan pakaian hangat sangat kurang. Di sisi lain, pembatasan ketat Israel terhadap kiriman bantuan kemanusiaan disebut memperparah semuanya. Bantuan yang masuk tidak memadai untuk menanggulangi skala krisis sebesar ini.
Sebenarnya, peringatan sudah lama disuarakan. Pemerintah Gaza sebelumnya telah mengingatkan soal dampak sistem tekanan rendah dan suhu beku ini. Mereka memprediksi risiko kematian akan tinggi bagi kelompok rentan: anak-anak, orang sakit, dan para lansia. Peringatan itu sekaligus menyiratkan kekhawatiran bahwa korban akan terus berjatuhan jika tidak ada intervensi segera dari dunia internasional.
Dalam pernyataannya, media pemerintah Gaza bersikeras menyebut Israel bertanggung jawab penuh. Situasi ini, kata mereka, adalah bentuk "pembunuhan perlahan" terhadap penduduk Gaza. Sebuah kelanjutan dari kebijakan sistematis yang menjadikan cuaca ekstrem sebagai senjata tambahan, di samping kelaparan, pengungsian paksa, dan pengepungan ketat.
Seruan pun dilayangkan. Kepada komunitas internasional, PBB, serta berbagai organisasi kemanusiaan dan HAM, mereka mendesak tindakan segera. Intinya: sediakan perlindungan yang aman, buka keran bantuan tanpa halangan. Agar nyawa-nyawa yang masih bertahan bisa diselamatkan. Sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Tragedi ini tentu memantik kecaman. Banyak kalangan internasional menilai, membiarkan warga sipil terutama anak-anak menderita di bawah pengepungan dan cuaca ekstrem seperti ini adalah pelanggaran berat hukum humaniter.
Di lapangan, bagi ribuan keluarga pengungsi, kenyataan yang mereka hadapi lebih sederhana namun menghancurkan. Setiap malam di musim dingin ini adalah pertaruhan hidup dan mati. Di tengah kehancuran, dingin yang tak tertahankan, dan perasaan bahwa dunia seakan diam saja menyaksikan kejahatan kemanusiaan ini terus berlanjut.
Artikel Terkait
Prabowo Buka Retret Ketua DPRD dengan Dialog dari Hati ke Hati
Bareskrim Gerebek Pabrik Gas Whip Pink Beromzet Miliaran di Jakarta
PSM Makassar Hadapi Borneo FC di Parepare, Pertarungan Sengit Penuh Sejarah
Harga Emas Perhiasan Relatif Stabil Meski Pasar Global Bergejolak