Petugas Jakarta Barat Dapat Apresiasi Rp 25 Ribu per Kg dan Jalan ke Ancol Atas Penangkapan Ikan Sapu-Sapu

- Jumat, 17 April 2026 | 11:55 WIB
Petugas Jakarta Barat Dapat Apresiasi Rp 25 Ribu per Kg dan Jalan ke Ancol Atas Penangkapan Ikan Sapu-Sapu

Petugas gabungan di Jakarta Barat dapat hadiah menarik. Bukan cuma uang, tapi juga jalan-jalan. Ini semua karena mereka berhasil menangkap ikan sapu-sapu yang jadi masalah di perairan kota.

Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, menjelaskan bentuk apresiasinya. "Ada apresiasi buat yang mendapatkan ikan, Rp 25 ribu untuk 1 kilogram, itu buat satu grup," ujarnya.

Menurut Iin, hadiah itu bisa dinikmati bersama-sama oleh tim. "Jadi nanti mereka bisa nikmati bersama-sama dan kita juga akan ajak mereka refreshing, jalan-jalan ke Ancol," tambahnya.

Hasil tangkapan mereka ternyata cukup banyak. Dalam waktu singkat, kurang dari satu jam, sudah lebih dari 20 kg ikan sapu-sapu berhasil dikumpulkan. Iin yakin angka itu bakal terus bertambah. "Di titik ini sudah dapat 20 kilogram, tapi ini baru awal," katanya. Dia berharap pekerjaan pembersihan ini bisa selesai sebelum waktu salat Jumat.

Lalu, apa yang terjadi dengan ikan-ikan yang tertangkap itu? Ternyata, ikan-ikan tersebut sama sekali tidak untuk dikonsumsi. Iin menegaskan bahwa semua ikan sapu-sapu akan langsung dikubur di Sentra Flora Semanan. Tujuannya jelas: mencegah penyalahgunaan. "Jadi, nanti akan dikubur ikannya," tegasnya.

Di sisi lain, bahaya ikan sapu-sapu ini ternyata cukup serius. Mujiati, Sekretaris Dinas KPKP Jakarta, memaparkan bahwa ikan ini berpotensi merusak struktur turap. Soalnya, mereka hidup dan bersembunyi di dalam lumpur. "Kalau jumlahnya banyak, dikhawatirkan bisa mengganggu bagian bawah turap," terang Mujiati.

Masalahnya tak berhenti di situ. Aas Asih, Kepala Seksi Perikanan di Jakarta Barat, menyebut ikan sapu-sapu sebagai spesies invasif yang berbahaya. Keberadaannya bisa mendesak populasi ikan lokal di Kali Taman Semanan Indah. "Jadi, dia berkembang biasanya cepat sekali, sehingga ikan lokal nanti terdesak," tutur Aas.

Belum lagi kebiasaan ikan ini yang suka melubangi. "Memang sifat ikan sapu-sapu itu, dia melubangi tembok untuk berliang," ungkap Aas. Akibatnya, dinding turap saluran air bisa menjadi rapuh lebih cepat.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, ikan ini kadang masih diburu untuk diolah jadi makanan, seperti siomai. Padahal, kata Aas, kandungannya sangat berisiko. Ikan sapu-sapu bisa mengandung bakteri jahat seperti E coli atau Salmonella, plus logam berat dari lingkungan kotornya.

"Dikhawatirkan, kalau ada masyarakat yang mengonsumsi itu secara terus-menerus, dia (logam berat) terakumulasi (dalam tubuh manusia), makanya ikan mesti dibasmi," pungkas Aas menegaskan.

Jadi, upaya penangkapan ini bukan sekadar bersih-bersih biasa. Ada upaya serius melindungi ekosistem sekaligus menjaga kesehatan warga. Dan untuk petugas yang turun tangan, ada sedikit hadiah yang patut mereka dapatkan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar