Di GOR Pajajaran Bandung, semangat kompetisi dan semangat kebangsaan berpadu selama tiga hari awal Desember 2025. Kejuaraan Nasional Pelajar Tarung Derajat yang digelar Kemenpora RI sukses menarik perhatian. Bamsoet, yang juga Ketua Umum PB Kodrat, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Baginya, ajang ini jauh lebih dari sekadar turnamen. Ini adalah wadah strategis untuk menempa generasi muda yang tak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga berkarakter kuat dan berdaya saing.
Ribuan sorak memenuhi arena. Sebanyak 273 atlet pelajar, didampingi 48 official, turun bertanding mewakili 24 provinsi. Mereka berebut gelar di berbagai kategori, mulai dari seni gerak untuk siswa SD, kombinasi seni dan tarung untuk tingkat SMP, hingga pertarungan sesungguhnya di kelas berat badan tertentu untuk jenjang SMA.
“Kejurnas ini adalah momentum krusial untuk pembibitan atlet sejak dini,” ujar Bamsoet.
“Logikanya sederhana: semakin banyak kompetisi berkualitas, regenerasi atlet akan semakin kokoh. Jangan salah paham, Tarung Derajat bukan cuma soal memukul atau menendang. Ini adalah proses panjang membangun keberanian, solidaritas, mental juang, dan ketangguhan sejati.”
Pernyataan itu disampaikannya Minggu (7/12) usai menutup kejuaraan. Namun, euforia sebenarnya sudah dimulai sejak Jumat (5/12) lalu, saat ia secara resmi membuka event tersebut. Momen pembukaan juga dimanfaatkan untuk hal yang lebih humanis: penyerahan bantuan bencana untuk kontingen dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Acara saat itu dihadiri oleh deretan nama penting. Mulai dari Wali Kota Bandung, para sesepuh dan guru besar Tarung Derajat seperti AA. Boxer, Badai, Rimba, dan Dara, hingga perwakilan Kemenpora, KONI, serta aparat keamanan. Kehadiran mereka menegaskan betapa seriusnya dukungan terhadap olahraga asli Indonesia ini.
Menurut Bamsoet, posisi Tarung Derajat memang unik. Olahraga bela diri ini punya kemampuan istimewa untuk menempa tiga aspek sekaligus: fisik, mental, dan karakter. Fakta-fakta di lapangan justru memperkuat argumennya. Data BKKBN tahun 2024, contohnya, mencatat bahwa 38% remaja Indonesia berisiko mengalami masalah perilaku sosial. Pemicunya? Kurangnya aktivitas penguatan karakter dan kegiatan fisik yang terstruktur.
Di sisi lain, tren yang dicatat Kementerian Kesehatan juga mengkhawatirkan. Tingkat kebugaran fisik remaja dilaporkan merosot hampir 19% dalam tiga tahun terakhir. Gaya hidup sedentari atau kurang gerak dituding sebagai biang keroknya.
Nah, di sinilah Tarung Derajat bisa menjawab tantangan. Disiplin ketat, keberanian yang terkendali, dan penekanan pada sopan santun dalam setiap gerakan, dinilai mampu menjadi solusi konkret untuk membina generasi muda.
“Pembinaan mental lewat jalur olahraga bela diri sudah jadi kebutuhan mendesak,” tegas Bamsoet.
“Dan Tarung Derajat telah membuktikan diri. Olahraga ini mampu mencetak pribadi-pribadi berjiwa pejuang, disiplin, kuat, dan punya integritas tinggi.”
Ia menekankan, semua ini harus berkesinambungan. Kejurnas pelajar harus dilihat sebagai bagian dari sistem regenerasi olahraga nasional yang lebih besar, sebagaimana amanat UU No. 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan. Undang-undang itu sendiri menegaskan pentingnya penyelenggaraan olahraga yang terpadu, berjenjang, dan tentu saja berkelanjutan.
Pada akhirnya, event semacam ini adalah investasi. Sebuah investasi jangka panjang untuk masa depan bela diri Indonesia. Setiap atlet pelajar yang bertanding hari ini, bisa jadi adalah calon atlet nasional, pelatih handal, atau bahkan duta bangsa di kancah global esok hari.
“Tarung Derajat lahir dari bumi Indonesia, dibangun dari nilai-nilai perjuangan,” tutup Bamsoet.
“Saat seorang pelajar belajar bertarung dengan benar, ia sebenarnya sedang belajar tentang harga diri, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Itulah modal berharga yang akan membawa kita menuju Indonesia Emas 2045.”
Artikel Terkait
Menteri Koperasi Resmikan SPBUN Berbasis Koperasi di Aceh Selatan untuk Dorong Keadilan Energi Nelayan
SK Gubernur Kaltim Bermasalah: Berlaku Surut Sejak Januari, Baru Ditandatangani Februari, Advokat Minta Pembatalan
Iran: AS Tak Lagi Punya Hak Mendikte Negara Lain di Tengah Negosiasi Pembukaan Selat Hormuz
Ardhi Suryadhi Resmi Jadi Pemimpin Redaksi detikcom, Angkat Kepercayaan sebagai Fondasi Utama