Identitas Pramugari Korban ATR 42-500 Akhirnya Terungkap Setelah Proses Identifikasi Rumit

- Rabu, 21 Januari 2026 | 12:30 WIB
Identitas Pramugari Korban ATR 42-500 Akhirnya Terungkap Setelah Proses Identifikasi Rumit

Setelah berhari-hari pencarian yang melelahkan, satu identitas korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 akhirnya terungkap. Korban tersebut adalah seorang perempuan berusia 33 tahun.

Pada Rabu (21/1/2026) siang, suasana di Polda Sulawesi Selatan tampak berat. Tim gabungan menggelar konferensi pers untuk mengumumkan perkembangan terbaru. Dari proses identifikasi yang rumit, nama Florencia Lolita Wibisono akhirnya bisa dikonfirmasi.

Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes Muhammad Haris, tampil untuk memberikan penjelasan. Suaranya terdengar jelas dalam siaran langsung Kompas TV.

“Jenazah dengan nomor post mortem 62D.01 cocok dengan data ante mortem AM004. Teridentifikasi sebagai Florensia Lolita Wibisono, perempuan, 33 tahun,” papar Haris.

Proses untuk sampai pada titik kepastian ini sama sekali tidak mudah. Bayangkan saja, tim yang terlibat sangat banyak. Ada tim DVI dari Polda Sulsel dan Polri, lalu tim Identifikasi Polda Sulses, ditambah lagi ahli dari Pusat Identifikasi Forensik Polri. Tak ketinggalan, Departemen Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin juga turun tangan.

Mereka bekerja dengan dua cara utama. Pertama, tentu saja dengan mencocokkan DNA korban dengan sampel dari keluarga. Sejak Minggu (18/1), perwakilan dari sepuluh anggota keluarga Florencia sudah memberikan sampel mereka untuk keperluan ini.

Namun begitu, DNA bukan satu-satunya penentu. Tim juga sangat memperhatikan ciri-ciri fisik dan barang-barang yang ditemukan pada jenazah.

“Kami melakukan identifikasi melalui sidik jari, data gigi, property, dan ciri medis lainnya,” tambah Kombes Haris, merinci metode yang digunakan.

Dari informasi yang berhasil dikumpulkan, Florencia yang akrab disapa Ollen adalah salah seorang pramugari di pesawat naas itu. Penerbangannya melayani rute Yogyakarta-Makassar. Menariknya, wanita ini baru sekitar tiga bulan bertugas di pesawat ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport (IAT).

Keluarga pun mengiyakan informasi tersebut.

“Kira-kira baru tiga bulan dia kerja di pesawat itu,” ujar Ramos, salah seorang anggota keluarga Florencia, seperti dikutip Tribun Timur.

Sayangnya, kabar ini hanya menjadi satu titik terang di tengah kabut duka. Di sisi lain, masih ada satu korban pria yang belum teridentifikasi. Belum lagi, delapan korban lainnya masih hilang dan terus dicari.

Pencarian sendiri masih berlangsung intensif. Pagi tadi, enam tim yang terdiri dari personel Basarnas dan warga setempat sudah bergerak lagi. Fokus mereka adalah area Puncak Gunung Bulusaraung, lokasi yang menjadi saksi bisu musibah ini.

Perjalanan masih panjang. Untuk keluarga yang menunggu, setiap detik terasa seperti satu hari.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar