Kunjungan Wapres ke Yahukimo Batal, Pesawat Hercules Dihadang Tembakan

- Kamis, 15 Januari 2026 | 22:25 WIB
Kunjungan Wapres ke Yahukimo Batal, Pesawat Hercules Dihadang Tembakan

Suasana tegang menyelimuti Bandara Yahukimo pagi itu. Akar Heluka, yang memimpin Pasukan Khusus di bawah Mayor Kopitua Heluka, mengklaim anak buahnya berhasil menggagalkan pendaratan sebuah pesawat Hercules. Menurut klaimnya, pesawat yang ditembaki itu diduga membawa Wakil Presiden Republik Indonesia.

“Kami tembak pesawat [milik] Tentara [jenis Herkules] yang mau mendarat di bandara. Dan dia [pesawat tersebut] itu kembali dari udara. Tidak mendarat karena pasukan kami tembak,”

Begitu penuturan Akar Heluka kepada Nadi Papua via telepon, Kamis lalu. Ia menyebut operasi penggagalan ini bukan aksi spontan.

Pasukannya sudah bersiap sejak malam, mengambil posisi di sekitar bandara. Menurut pengakuannya, sejak pagi buta, tiga helikopter lebih dulu mendarat membawa pasukan TNI. Dua helikopter lain menyusul kemudian. “Ada dua atau tiga helly itu putar-putar di wilayah Yahukimo. Mereka pantau. Tapi kami tenang. Kami tunggu pesawat yang rombongan Wakil Presiden,” jelasnya.

Rupanya, operasi ini sudah dimulai sejak Selasa. Saat itu, pasukannya menembaki pesawat sipil Trigana Air. Itu, katanya, sekadar peringatan. “Kami sudah sampaikan bahwa pasukan [kami] akan masuk di bandara. Besoknya kami masuk, dan sudah tembak pesawat rombongan wakil presiden dan mereka kembali,” ujar Akar. Meski begitu, ia tak bisa memastikan apakah benar Wapres Gibran Rakabuming Raka ada di dalam pesawat Hercules yang mereka bidik.

Di sisi lain, informasi dari Theo Hesegem, Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, punya sudut pandang berbeda. Menurutnya, pesawat Hercules yang ditumpangi Wapres memang akhirnya kembali dari Wamena. Penyebabnya? Laporan penembakan terhadap pesawat lain yang lebih dulu menuju Yahukimo.

“Benar, ada informasi penembakan di sekitar bandara Yahukimo. Tetapi Pesawat Herkules yang ditumpangi Wapres itu kembali dari Wamena karena mungkin ada laporan alasan keamanan,”

tutur Theo.

Lantas, apa artinya semua ini? Theo melihat ini sebagai bukti nyata bahwa konflik bersenjata di Timur Indonesia belum usai. Pemerintah pusat, pimpinannya Prabowo Subianto, sepertinya perlu menyadari fakta itu. Contohnya jelas: kunjungan kenegaraan Wapres ke Papua akhirnya urung sampai ke Yahukimo. Alhasil, beliau pulang ke Jakarta dengan perintah untuk balik.

“Seharusnya Wapres berkunjung saja ke Yahukimo kalau merasa daerah itu aman, karena pandangan orang Jakarta dan intelijen menganggap Papua aman. Kalau Wapres berangkat ke Jakarta tanpa berkunjung ke Kabupaten Yahukimo berarti Papua tidak aman, padahal pemerintah pusat dan intelijen menilai aman dan terkendali. Kok tiba-tiba Wapres balik ke Jakarta?”

Hesegem mempertanyakan hal ini. Baginya, ini menunjukkan kerja intelijen yang dipertanyakan profesionalismenya. Kalau Yahukimo memang rawan, kenapa jadwal kunjungan tetap dipaksakan? Ia menduga agenda kunjungan ini lebih berkaitan dengan urusan infrastruktur dan kepentingan Jakarta, bukan untuk menyentuh akar konflik atau persoalan HAM di Papua.

“Perlu juga diketahui bahwa pembangunan infrastruktur silakan saja dibangun, tetapi jika daerah tidak aman pasti ada korban, dan proses pekerjaan akan gagal,” tambahnya. Ia mengingatkan pengalaman kelam para pekerja yang dibunuh atau dieksekusi oleh TPNPB, yang seolah tak pernah dievaluasi serius oleh pemerintah.

Pada akhirnya, Theo Hesegem menilai kunjungan seperti ini cuma seremonial belaka. Sekadar basa-basi politik. Atau seperti katanya dengan nada sinis, “Bapak datang, anak senang.”

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar