SURABAYA Tiga raksasa, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta, sukses memulai putaran lanjutan Super League 2025/2026 dengan kemenangan. Tak heran, Persib dan Persija langsung dicap sebagai favorit utama. Reputasinya memang mentereng: skuad penuh bintang, dukungan dana yang kuat, dan sejarah panjang sebagai klub papan atas. Semua itu membuat mereka selalu jadi incaran utama saat orang mulai menebak siapa juara nanti.
Tapi sepak bola itu kan nggak cuma soal nama. Kalau kita lihat lebih dalam performanya di lapangan, konsistensi, dan stabilitas permainan ada satu tim yang justru terlihat lebih siap. Ya, Persebaya Surabaya.
Persib Bandung berhasil naik ke puncak klasemen sementara usai menang tipis 1-0 atas PSBS Biak. Gol tunggal Berguinho di menit ke-87 jadi penentu. Mereka juga menjaga rekor clean sheet di kandang sendiri. Bojan Hodak, pelatih Persib, tampak lega dengan hasil itu.
“Penting bagi kami menang dan tidak kebobolan,” ucap Hodak usai laga.
Namun begitu, ada yang mengganjal di balik kemenangan itu. Persib lagi-lagi kesulitan menghadapi tim yang bertahan rapat. Gol baru tercipta di penghujung waktu, dan Hodak sendiri mengakui masalah finishing masih jadi pekerjaan rumah. Terlalu bergantung pada momen keajaiban, bukan dominasi yang berbuah gol, tentu jadi tanda tanya besar buat tim yang punya target juara.
Persija Jakarta punya cerita serupa. Mereka heboh di bursa transfer dan skuadnya terlihat sangat kuat di atas kertas. Sayangnya, rentetan cedera dan proses adaptasi pemain baru bikin performa mereka belum stabil. Kadang tampil gemilang, tapi di laga lain bisa tiba-tiba kehilangan ritme. Kedalaman skuad memang menggiurkan, tapi konsistensinya belum ketemu.
Nah, di sisi lain, Persebaya justru menunjukkan hal yang berbeda. Mereka punya keseimbangan.
Bajul Ijo main dengan struktur yang jelas. Transisi dari bertahan ke menyerang terlihat rapi, dan intensitas mereka terjaga sejak awal pertandingan. Mereka nggak selalu menang telak, tapi cara mereka mengendalikan permainanlah yang bikin beda. Lini tengah disiplin, pertahanan solid, dan serangan mereka cukup efektif memanfaatkan peluang yang ada.
Stabilitas tim juga jadi poin plus. Gejolak internal hampir nggak ada, drama transfer minimal, dan para pemain sudah saling paham karakter satu sama lain. Dalam liga panjang seperti Super League, faktor kayak gini seringkali lebih menentukan daripada sekadar mengoleksi pemain tenar.
Konsistensi. Itu kata kuncinya. Persebaya jarang banget tampil amburadul, sesuatu yang justru sering dialami tim berbintang. Mereka bisa menang saat permainan bagus, dan tetap mengamankan poin saat performa lagi nggak maksimal.
Mentalitas mereka juga terlihat matang. Nggak grusa-grusu, nggak gampang terpancing tekanan, dan fokus pada proses. Karakter kayak gini biasanya dimiliki tim juara, meski sering luput dari perhatian.
Musim masih panjang. Segalanya bisa berubah. Persib dengan kualitas individunya tetap berbahaya, Persija juga punya amunisi cadangan yang melimpah. Tapi kalau ditanya siapa yang paling siap secara permainan sampai saat ini, jawabannya cenderung ke Persebaya Surabaya.
Pada akhirnya, Super League nggak dimenangkan oleh tim yang paling gemerlap. Tapi oleh yang paling konsisten. Dan sejauh ini, Bajul Ijo-lah yang paling mendekati definisi itu.
Artikel Terkait
Prancis Kalahkan Indonesia 4-1, untuk Pertama Kalinya Tim Merah Putih Gagal Lolos dari Fase Grup Piala Thomas
Herdman Coret Empat Pemain Andalan Shin Tae-yong dari TC Timnas Indonesia Jelang Piala AFF 2026
Indonesia Gagal Total di Fase Grup Piala Thomas 2026, Ulangi Rekor Buruk 14 Tahun Lalu
Ducati Buru Solusi Aerodinamika Usai Marc Marquez Jatuh di MotoGP Spanyol