PSIS Semarang Hadapi Laga Krusial Kontra Persipal Palu di Bawah Bayang-Bayang Ancaman Degradasi

- Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:30 WIB
PSIS Semarang Hadapi Laga Krusial Kontra Persipal Palu di Bawah Bayang-Bayang Ancaman Degradasi

SEMARANG Waktu memang kejam. Dulu, PSIS Semarang adalah momok. Lawan-lawan besar macam Persebaya Surabaya atau Persib Bandung kerap dibuat kesulitan di Jatidiri. Tapi sekarang? Ceritanya sudah lain sama sekali.

Pekan ke-22 Championship 2025/2026 ini, Laskar Mahesa Jenar justru terlibat pertarungan sengit untuk sekadar bertahan. Mereka menjamu Persipal Palu di Stadion Jatidiri, Minggu (29/3) malam nanti. Ini lebih dari sekadar tiga poin. Ini soal hidup dan mati.

Realitasnya memang pahit. Lihat saja klasemen sementara. PSIS cuma mengumpulkan 16 poin dari 21 laga, terpaku di peringkat ke-9. Posisi itu belum aman, bahkan terlalu dekat dengan zona merah degradasi.

Catatannya: empat menang, empat seri, dan kalah sampai 13 kali. Statistik itu jelas bukan milik tim yang disegani. Angka-angka itu memaksa mereka menurunkan ekspektasi. Target utama sekarang cuma satu: bertahan.

Di sisi lain, tamunya, Persipal Palu, kondisinya bahkan lebih parah. Cuma tujuh poin dari 21 pertandingan, tanpa satu kemenangan pun. Mereka teronggok di dasar klasemen.

Tapi jangan salah. Dalam sepak bola, tim yang sudah di ujung tanduk dan tak punya apa-apa lagi untuk kehilangan, justru sering kali paling berbahaya. Mereka bisa bermain tanpa beban, dan itu mematikan.

Pelatih Andri Ramawi tentu merasakan tekanan berat itu. Waktu persiapan usai libur Lebaran memang sempit, tapi latihan digenjot maksimal.

Targetnya tegas: tiga poin. Titik.

Namun begitu, ada kegelisahan yang tak bisa disembunyikan. Satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal. Bisa memperpanjang krisis, atau bahkan menyeret PSIS lebih dalam ke kubangan.

Apalagi, jadwal ke depan tidaklah mudah. Setelah Palu, masih ada Barito Putera, Persipura Jayapura, dan PSS Sleman yang menanti di tikungan akhir musim. Setiap laga akan seperti final.

Meski dibayangi tekanan, secercah harapan masih ada. Lima poin dari tiga laga terakhir mereka menunjukkan ada sedikit tanda kebangkitan. Walaupun, ya, performanya masih belum stabil betul.

Dukungan suporter di Jatidiri nanti akan jadi faktor kunci. Bisa menjadi energi tambahan yang dahsyat, atau justru berubah jadi tekanan membara jika permainan tim tak sesuai harapan.

Di sinilah mental benar-benar diuji.

Mampukah PSIS bangkit dan mengingatkan semua orang pada jati diri mereka yang dulu? Atau justru makin tenggelam dalam inkonsistensi yang mematikan?

Sepak bola itu permainan yang jujur. Dia tak pernah peduli dengan sejarah gemilang atau reputasi masa lalu. Yang dilihat cuma performa hari ini, di lapangan hijau itu.

Dan faktanya hari ini, PSIS Semarang bukan lagi tim sang penebar teror. Mereka adalah tim yang sedang berjuang mati-matian untuk tetap bertahan hidup.

Lawan Persipal Palu, di atas kertas, mungkin terlihat seperti laga yang seimbang. Tapi bagi manajemen, pemain, dan suporter PSIS, ini jauh lebih dari itu. Ini adalah pertandingan yang bisa menentukan arah klub ke depannya.

Menang, mereka bisa bernapas lega sejenak. Gagal? Jurang itu akan terasa semakin dekat dan menganga.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar