JAKARTA – Kejutan datang dari Iran. Timnas mereka memutuskan mundur dari Piala Dunia 2026. Ini bukan soal sepak bola murni, melainkan sebuah keputusan politik yang lahir dari memanasnya konflik di Timur Tengah. Kabar mundurnya Iran ini, mau tak mau, membuka pintu regulasi. Dan siapa yang diuntungkan? Indonesia disebut-sebut punya peluang lewat jalur diplomasi yang cerdik.
Pengumuman resmi disampaikan Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, pada Rabu lalu. Langkah ini terbilang drastis. Pemicunya adalah eskalasi perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, situasi yang makin runyam setelah wafatnya pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei.
Bagi pemerintah Iran, mustahil rasanya bertanding di negara yang dianggap musuh. Alasan keamanan dan kedaulatan menjadi pertimbangan utama.
"Mengingat situasi saat ini, kami tidak dapat berpartisipasi dalam Piala Dunia di negara yang dianggap bertanggung jawab atas serangan terhadap pemimpin kami,"
tegas Donyamali di siaran televisi pemerintah. Suaranya datar, penuh keyakinan.
Padahal, Presiden FIFA Gianni Infantino sudah berusaha. Dia bahkan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump untuk menjamin keamanan tim Iran. Tapi upaya itu tampaknya sia-sia. Teheran bersikukuh untuk memboikot.
Lalu, Bagaimana dengan Indonesia?
Artikel Terkait
Mantan Pelatih Kritik PSM: Permainan Datar, Jiwa Siri Mulai Hilang
Timnas Indonesia Hadapi FIFA Series Tanpa Miliano Jonathans, Peluang Terbuka untuk Pengganti
Real Madrid Hajar Manchester City 3-0 di Leg Pertama 16 Besar Liga Champions
Persija Jakarta Siap Lakukan Cuci Gudang untuk Pertahankan Tren Positif