MADRID Stadion Santiago Bernabéu bergemuruh. Real Madrid baru saja menuntaskan tugas dengan gemilang, mengalahkan Manchester City 3-0 pada leg pertama 16 besar Liga Champions. Hasil yang, jujur saja, membuat banyak orang terkejut.
Di sisi lain, kemenangan itu dirayakan dengan penuh kebahagiaan oleh kubu Los Blancos. Pelatih Madrid, Álvaro Arbeloa, mengaku puas namun tetap menjaga kewaspadaan.
"Saya senang sekali, terutama untuk para pendukung dan pemain. Mereka semua menikmati malam ini. Madrid memang pantas merasakannya," ujar Arbeloa.
Ia lalu menambahkan, "Skor 3-0? Itu jelas lebih baik dari yang bisa kita bayangkan sebelumnya, bukan?"
Menurut Arbeloa, kunci kemenangan terletak pada persiapan timnya yang matang. Mereka paham betul bagaimana City bermain dan apa yang diinginkan Pep Guardiola.
"Kami berusaha menutup semua jalur umpan mereka. Ruang gerak dipersempit, baik secara vertikal antar lini maupun horizontal antar pemain. Mereka kan suka memancing pressing individu supaya ada celah di belakang. Nah, kami menolak permainan itu," jelasnya dengan rinci.
"Kami memilih untuk bersabar. Balik saja idenya biarkan mereka yang menyerang dan memberi ruang 'di belakang' mereka. Begitu berhasil, kami tahu bahaya bisa kami ciptakan."
Namun begitu, Arbeloa tak mau gegabah. Ia mengingatkan bahwa perjalanan masih panjang. Leg kedua di Etihad Stadium pekan depan akan jadi tantangan sebenarnya.
"Tentang minggu depan, saya sudah bilang ke anak-anak: pertandingan ini belum selesai. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," tandasnya tegas.
Sementara dari kubu tamu, suasana hati tentu berbeda. Pelatih City, Pep Guardiola, mengakui skor 3-0 adalah pukulan yang berat. Meski begitu, ia merasa timnya masih beruntung karena penalti Vinicius Junior bisa diselamatkan.
"Ya, penyelamatan penalti itu membuat 3-0 terasa lebih ringan daripada 4-0. Saya bukan tipe yang akan bilang kita pasti bisa balik, tapi kita pasti akan coba," ucap Guardiola.
Ia mencoba menganalisis kekalahan itu. "Transisi kami kadang bagus, kadang tidak. Yang jelas, kami gagal mencetak gol di momen yang diperlukan. Target kami sebenarnya sederhana: pemain sayap mengikat bek lawan supaya pemain tengah punya ruang untuk masuk. Seringnya sih berhasil, identitas kami tetap terlihat. Tapi hari ini, harus diakui, Madrid lebih baik. Mereka punya pemain-pemain fantastis."
Suasana di Madrid kini penuh harap. Tapi ingat, sepak bola selalu punya kejutan. Semuanya masih mungkin terjadi di Manchester nanti.
Artikel Terkait
PSM Makassar Incar Poin Penuh di Kandang Bali United untuk Jauh dari Zona Degradasi
PSM Makassar Hadapi Laga Hidup Mati Lawan Bali United demi Jauh dari Zona Degradasi
Persaingan Tiga Tim di Grup B Championship Makin Sengit, Tiket Promosi Liga 1 Ditentukan di Laga Terakhir
Allegri Kritis soal Puasa Gol Pulisic dan Inkonsistensi Leao Usai Milan Ditahan Juventus