JAKARTA – Kalau kamu pikir panasnya persaingan BRI Super League cuma terjadi di puncak klasemen, pikir lagi. Di bagian bawah, pertarungannya justru lebih brutal. Lima tim sedang berjibaku mati-matian, berusaha menghindari jurang degradasi yang sudah menganga di depan mata. Setiap laga, setiap poin, rasanya seperti urusan hidup dan mati.
Memasuki sisa sepuluh pertandingan terakhir, situasinya benar-benar mencekam. Klasemen papan bawah berubah seperti rollercoaster. Satu kemenangan bisa melambungkan posisi, satu kekalahan bisa langsung menjerumuskan.
Tekanan itu sendiri ternyata punya dua sisi. Di satu sisi, ia bisa menghancurkan mental. Tapi di sisi lain, ia juga bisa memicu performa luar biasa. Motivasi para pemain di tim-tim ini melonjak drastis. Mereka bukan lagi sekadar bermain untuk tiga poin, tapi untuk menyelamatkan harga diri dan masa depan klub.
Lihat saja susunannya saat ini. Madura United dan Persijap Jepara sama-sama mengumpulkan 20 poin, meski posisinya berbeda. Lalu ada PSBS Biak (18 poin), diikuti Persis Solo dan Semen Padang yang sama-sama mengoleksi 17 poin. Bahkan PSM Makassar yang di peringkat 13 dengan 24 poin pun belum bisa tidur nyenyak. Jaraknya terlalu tipis untuk merasa aman.
Dalam kondisi seperti ini, fluktuasi adalah satu-satunya hal yang pasti. Posisi bisa berubah drastis hanya dalam satu akhir pekan.
Laskar Kalinyamat Mulai Merangkak
Di tengah keputusasaan, ada secercah harapan dari Jepara. Persijap, yang sempat terpuruk, menunjukkan grafik yang cukup menggembirakan. Sejak pekan ke-21, mereka perlahan tapi pasti merangkak keluar dari zona merah. Kini mereka bertengger di posisi 15.
Konsistensi adalah kuncinya. Mereka tak lagi mudah dibongkar. Itu modal berharga untuk menghadapi sepuluh laga penuh tekanan ke depan.
Artikel Terkait
Debut Imran Nahumarury Sukses, Semen Padang Kalahkan PSBS Biak 2-0
Persebaya Dipecundangi Borneo 1-5, Lini Depan Jadi Sorotan
Herdman Panggil Victor Dethan dan Bawa Kembali Baggott untuk FIFA Series 2026
Xavi Tuding Laporta Halangi Kepulangan Messi dan Sebut Ada Tangan Tak Terlihat di Balik Pemecatannya