Kabar duka datang dari Selat Hormuz. Kapten Miswar Maturusi dan dua warga negara Indonesia lainnya dinyatakan hilang setelah kapal Tugboat Musaffah 2 yang mereka tumpangi meledak dan akhirnya tenggelam. Menurut sejumlah saksi, ledakan itu terdengar keras sebelum kapal perlahan-lahan menghilang di permukaan laut.
Menariknya, sehari sebelum musibah itu terjadi, Miswar sempat berbincang hangat dengan istrinya, Marliani Ahmad. Mereka melakukan panggilan video seperti biasa.
"Ya sempat video call seperti biasa," kenang Marliani.
"Ngobrol santai sampai dia minta izin mau istirahat. Waktu itu Rabu sore," tambahnya, suaranya terdengar lirih.
Percakapan terakhir itu terjadi pada Rabu (4/3). Kemudian, di pagi hari Kamis (5/3), sang kapten masih sempat mengirim pesan lewat WhatsApp kepada istrinya. Dia pamit akan berlayar nanti sore.
"Hari Kamis jam 9 pagi dia masih sempat WA untuk pamit berlayar. Katanya, berangkat sore. Insyaallah tiba sore juga di hari Jumat," beber Marliani, mencoba mengingat detil percakapan singkat itu.
Namun begitu, ada satu hal yang tidak disampaikan Miswar kepada istrinya. Dalam pesannya, dia hanya bilang akan menjemput kapal milik teman yang sedang rusak. Lokasi penjemputan yang ternyata di kawasan rawan Selat Hormuz, sama sekali tidak disebut.
"Tidak," jawab Marliani ketika ditanya apakah suaminya memberi tahu lokasi itu.
"Dia hanya sampaikan bahwa menjemput kapal yang rusak."
Kini, keluarga hanya bisa menunggu dan berharap. Pencarian terhadap tiga ABK WNI itu masih terus dilakukan di perairan yang dikenal sibuk sekaligus berbahaya itu.
Artikel Terkait
Kevin Diks Pulih dari Cedera, Siap Bela Borussia Monchengladbach Lawan Wolfsburg
Mojtaba Khamenei Peringatkan Perang Psikologis Musuh yang Targetkan Persatuan Nasional Iran
Perempuan Diduga Lompat ke Jurang di Bogor Usai Cekcok dengan Pria, Pencarian Masih Nihil
Rusia Ancam Targetkan Negara Eropa yang Terima Pengebom Nuklir Prancis