Pendapatan PGEO Naik 6,29% di 2025, Meski Laba Bersih Menyusut

- Minggu, 08 Maret 2026 | 20:30 WIB
Pendapatan PGEO Naik 6,29% di 2025, Meski Laba Bersih Menyusut

Sepanjang tahun 2025, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan pendapatan yang cukup solid. Angkanya mencapai USD432,73 juta, naik sekitar 6,29% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang sebesar USD407,12 juta. Jadi, dari sisi penjualan, trennya positif.

Namun begitu, ada cerita lain di bagian laba. Perusahaan meraih laba bersih USD137,67 juta. Memang masih besar, tapi ini turun dari capaian 2024 yang sempat menyentuh USD160,30 juta. Jadi, meski pendapatannya naik, profitnya menyusut.

Menanggapi hasil ini, Direktur Keuangan PGEO Yurizki Rio punya penjelasan.

"Capaian ini menunjukkan kinerja PGEO yang tetap berada pada jalur yang sehat, mencerminkan fundamental keuangan perseroan yang kuat. Kondisi tersebut turut didukung oleh kinerja operasional yang mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high dengan kenaikan produksi sebesar 5,6 persen pada 2025," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (8/3/2026).

Yurizki bilang, di tengah kondisi industri energi global yang terus berubah, PGEO tetap konsisten mengembangkan panas bumi di dalam negeri. Ini jadi bagian dari kontribusi mereka untuk mendorong transisi energi. Fokusnya sekarang adalah pada pertumbuhan jangka panjang. Caranya? Dengan menanamkan modal di sejumlah proyek 'quick win' yang diharapkan bisa mendongkrak kapasitas dan produksi. Harapannya, langkah ini bakal memperkuat kondisi keuangan perusahaan untuk masa depan.

Tak cuma itu, ekspansi juga terus digenjot lewat proyek-proyek strategis di berbagai wilayah kerja. Ambisinya besar. Dalam jangka panjang, PGEO menargetkan kapasitas terpasang hingga 3 gigawatt (GW). Potensi ini diidentifikasi dari 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang mereka kelola.

"Di saat yang sama, PGEO juga terus memperluas kapasitas terpasang melalui sejumlah proyek strategis di berbagai wilayah kerja panas bumi. Dalam jangka panjang, perseroan menargetkan kapasitas terpasang hingga 3 gigawatt (GW) yang telah teridentifikasi dari 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang dikelola," katanya.

Beberapa proyek kunci yang sedang digarap antara lain pengembangan Lumut Balai Unit 3 dan 4, lalu Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 & 8. Mereka juga sedang mengembangkan proyek co-generation dengan kapasitas total 230 MW. Cukup banyak, memang.

Di sisi lain, kolaborasi dengan BUMN lain juga diperkuat. Contohnya, kerja sama dengan PT PLN Indonesia Power yang dijalin Agustus 2025 lalu. Tujuannya untuk mempercepat pengembangan panas bumi lewat 19 proyek eksisting dengan total kapasitas 530 MW.

"Melalui kolaborasi ini, potensi tambahan kapasitas diperkirakan dapat mencapai hingga 1.130 MW, yang berasal dari wilayah kerja yang telah berproduksi maupun area prospektif baru," jelas Yurizki.

Langkah ini jelas sejalan dengan target pemerintah. PGEO ingin mendukung target RUPTL, di mana porsi pembangkit energi baru terbarukan ditargetkan mencapai 76% dalam periode 2025-2034. Intinya, mereka berupaya agar manfaat energi bersih dari panas bumi ini makin luas dirasakan masyarakat.

Sementara itu, dari sisi pimpinan puncak, Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menyoroti visi jangka panjang. Perusahaan menargetkan pertumbuhan berkelanjutan dengan mengoptimalkan potensi panas bumi nasional. Ambisinya bahkan global: menjadi "world leading geothermal producer". Bukan cuma soal kapasitas, tapi juga diakui sebagai pusat keunggulan panas bumi di tingkat dunia.

Untuk mencapainya, tiga strategi utama dijalankan. Pertama, menjaga keandalan operasional PLTP eksisting yang kapasitasnya 727 MW. Kedua, mendorong ekspansi bisnis. Ketiga, mengembangkan sumber pendapatan masa depan.

"Seluruh upaya ini dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, disiplin investasi, dan komitmen kuat terhadap ESG," tegas Ahmad Yani.

Jadi, meski laba bersih tahun ini turun, langkah dan rencana PGEO ke depan terlihat cukup agresif. Mereka tak hanya berkutat pada angka-angka laporan keuangan, tapi juga sedang membangun fondasi untuk posisi yang lebih besar di peta energi global.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar