Xavi Tuding Laporta Halangi Kepulangan Messi dan Sebut Ada Tangan Tak Terlihat di Balik Pemecatannya

- Senin, 09 Maret 2026 | 22:00 WIB
Xavi Tuding Laporta Halangi Kepulangan Messi dan Sebut Ada Tangan Tak Terlihat di Balik Pemecatannya
Perang Kata di Barcelona

BARCELONA Suasana di Camp Nou belakangan ini memang panas. Tapi panas kali ini bukan dari pertandingan, melainkan dari perang kata-kata yang melibatkan dua sosok sentral: Xavi Hernandez dan Joan Laporta. Mantan kapten sekaligus pelatih itu baru saja melontarkan wawancara kontroversial yang langsung memicu badai.

Intinya, Xavi merasa dikhianati. Dia dengan blak-blakan bicara soal retaknya hubungan dengan petinggi klub, terutama soal rencana gagal membawa pulang Lionel Messi tahun lalu. Menurut dia, semua sudah nyaris jadi. Messi bahkan dikatakan sudah setuju untuk "tarian terakhir" ala Michael Jordan di klub yang membesarkannya.

Tapi rencana itu kandas. Dan Xavi menuding satu orang sebagai penyebabnya.

“Presiden berbohong tentang apa yang terjadi dengan Messi,” tegas Xavi.

“Leo sudah dikontrak. Kami berbicara sampai Maret dan saya bilang padanya, ‘Kalau kamu setuju, saya yang urus presiden.’ Semuanya dapat lampu hijau dari La Liga. Tapi Laporta yang membatalkan. Dia bilang ke saya, kata demi kata, kalau Messi kembali, dia akan berperang. Dia tidak bisa mengizinkannya.”

Xavi mencoba menghubungi Messi, tapi teleponnya tak diangkat. Percakapan dengan sang ayah, Jorge Messi, hanya berujung pada satu kalimat: “Bicaralah dengan presiden.” Bagi Xavi, ini jelas. Messi tak kembali karena Laporta tak menginginkannya. Titik.

“Saya tidak akan pernah kembali ke Barca,” sambungnya. “Cukup sudah. Sekarang saya cuma mau bicara benar. Laporta punya semua kekuasaan di klub ini, dan dia tahu Messi akan merebut sebagian dari kekuasaan itu.”

Persoalannya tentu tak cuma soal Messi. Xavi juga kesal dengan kendala keuangan yang selalu menghantui masa jabatannya. Permintaannya untuk mendatangkan Martin Zubimendi, misalnya, ditolak mentah-mentah. Padahal, gelandang itu akhirnya pindah ke Arsenal dengan harga selangit. Kepergian Jordi Cruyff sebagai direktur olahraga juga dia anggap sebagai simbol kemerosotan nilai-nilai klub warisan Johan Cruyff.

Waktu wawancara ini muncul pun terasa pas. Pemilihan presiden klub tinggal hitungan hari. Laporta berusaha keras untuk terpilih lagi, sementara Victor Font menantang. Komentar Xavi seperti bensin yang dituang ke api kampanye.

Laporta tentu tak tinggal diam. Dia membalas dengan nada yang tak kalah pedas.

“Ketika saya lihat apa yang dikatakan Xavi, saya langsung teringat Hansi Flick,” ujar Laporta.

“Memimpin Barcelona itu sulit. Harus ambil keputusan berat. Saya lakukan apa yang harus dilakukan. Dengan Xavi, saya lihat kami akan kalah. Dengan Flick, kami menang. Saya paham dia sakit hati. Tapi faktanya, dengan pemain yang sama, Flick menang.”

Soal Messi, versi Laporta berbeda jauh. Dia bercerita bahwa Jorge Messi sendiri yang datang ke rumahnya dan bilang bahwa tekanan di Barcelona terlalu besar. Keluarga Messi lebih memilih Miami.

Namun begitu, tuduhan Xavi tak berhenti di situ. Dia juga menyebut ada "tangan tak terlihat" yang memengaruhi Laporta: Alejandro Echevarria, mantan saudara ipar sang presiden.

“Presiden meyakinkan saya untuk tetap tinggal saat saya mau mundur Januari lalu. Dia bilang, ‘Saya tidak melihat tim tanpa Anda.’ Tapi akhirnya, dia singkirkan saya tanpa kejujuran, dipengaruhi oleh seseorang di atasnya: Alejandro Echevarría. Dialah yang sebenarnya menyingkirkan saya.”

Laporta menepis semua ini. Dia malah menuduh Victor Font memanfaatkan Xavi untuk kampanye hitam.

“Yang menyakitkan, dia mau saja dimanfaatkan. Untuk menyakiti saya, dia pakai orang dari lingkaran dalam saya sendiri. Di balik Xavi, saya tahu Victor Font sedang coba memanipulasi pemilihan ini.”

Begitulah. Dua legenda Barcelona kini saling serang di media. Satu sisi, ada Xavi yang merasa dikhianati dan ingin suaranya terdengar. Di sisi lain, ada Laporta yang bertahan dengan keputusannya, sambil bersiap untuk pertarungan politik terbesar di klub akhir pekan ini. Kebenaran mungkin ada di tengah. Tapi yang pasti, pertikaian ini meninggalkan luka yang dalam untuk semua pihak.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar