Keputusan mengejutkan diambil oleh Feyenoord. Klub Eredivisie tersebut resmi memutuskan untuk memecat manajer mereka, Robin van Persie, setelah hanya 16 bulan menjabat. Langkah ini terbilang mendadak, mengingat Van Persie baru saja menyelesaikan musim penuh pertamanya sebagai pelatih kepala dengan membawa tim finis di posisi kedua dan mengamankan tiket ke Liga Champions.
Meski terbilang sukses di atas kertas, jarak poin yang cukup jauh dengan sang juara, PSV Eindhoven, menjadi salah satu sorotan. Feyenoord harus mengakui keunggulan PSV dengan selisih 19 poin di akhir musim. Faktor ini, bersama dengan evaluasi internal lainnya, menjadi pertimbangan utama di balik keputusan pemecatan tersebut.
Yang menarik, pemecatan ini terjadi hanya dua minggu setelah perubahan di jajaran manajemen klub. Devy Rigaux baru saja ditunjuk sebagai direktur teknik, sementara Robert Eenhoorn menjabat sebagai manajer umum. Keputusan untuk memisahkan jalan dengan Van Persie pun menjadi salah satu langkah pertama dari struktur kepemimpinan yang baru.
Dalam pernyataan resminya, Rigaux memberikan apresiasi atas dedikasi Van Persie. Ia menilai mantan striker timnas Belanda itu telah memberikan segalanya bagi klub dalam satu setengah tahun terakhir.
“Robin van Persie telah memberikan segalanya untuk klub selama 1,5 tahun terakhir. Dia tentu pantas mendapatkan pujian karena berhasil mengakhiri musim yang sulit dengan finis di posisi kedua. Ini mengamankan tiket ke Liga Champions, yang tentu saja sangat penting,” ujar Rigaux.
Namun, di balik pencapaian tersebut, manajemen melakukan analisis internal secara menyeluruh. Beberapa aspek yang menjadi perhatian adalah perkembangan gaya permainan serta tren penurunan total poin, baik di kompetisi Eropa maupun domestik.
“Kami melakukan analisis internal yang menyeluruh. Dalam hal ini, kami mempertimbangkan, antara lain, perkembangan gaya permainan dan tren penurunan total poin, baik di Eropa maupun di Eredivisie,” lanjutnya.
“Kesimpulannya adalah lebih baik memulai musim depan dengan pelatih kepala baru,” tandasnya.
Nama Robin van Persie bukanlah sosok asing bagi Feyenoord. Ia memiliki ikatan emosional yang kuat dengan klub asal Rotterdam tersebut. Sepanjang karier bermainnya, Van Persie menjalani dua periode di Feyenoord, yaitu di awal dan akhir masa baktinya sebagai pemain. Ia berhasil mencetak 46 gol dalam 122 penampilan untuk klub tersebut.
Setelah gantung sepatu, ia memulai karier kepelatihan sebagai asisten di bawah asuhan Dick Advocaat. Ia juga sempat menangani tim muda Feyenoord sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil alih Heerenveen pada Mei 2024. Namun, ia kembali ke Feyenoord hanya sembilan bulan kemudian untuk mengisi kursi manajer utama.
Sebelum menjadi pelatih, nama Van Persie melambung sebagai striker haus gol di pentas Eropa. Ia menghabiskan delapan tahun di Arsenal sejak 2004 dan mempersembahkan trofi Piala FA. Puncak kariernya terjadi setelah bergabung dengan Manchester United pada 2012, di mana ia sukses meraih gelar Liga Premier di musim pertamanya bersama Setan Merah.
Artikel Terkait
Bayern München Peringatkan Real Madrid: Michael Olise Tidak Dijual, Berapa pun Tawarannya
Bernardo Silva Tinggalkan Manchester City, Real Madrid Masuk Daftar Peminat
Garudayaksa FC Mulai Bongkar Skuad Usai Promosi, Dua Pemain Asing Dilepas
Reno Salampessy Terancam Absen di Semifinal Piala AFF U-19 Usai Cedera saat Kalahkan Vietnam