“Kami sepakat untuk kembali ke slogan itu. Itulah intinya,” kata Amiruddin.
Upaya itu mulai membuahkan tanda. Saat bertandang ke Ternate menghadapi Malut United, Sabtu malam tanggal 7 Maret 2026, PSM tampil dengan wajah berbeda. Pertandingan berlangsung alot dan dramatis, berakhir dengan skor imbang 3-3. Bagi Amiruddin, hasil itu bukan sekadar angka.
“Saya salut sama pemain. Mereka berjuang habis-habisan di Kie Raha. Ini kan laga terakhir sebelum Lebaran, tapi dedikasi mereka tinggi sekali,” ujarnya penuh apresiasi.
Dia menambahkan, meraih satu poin di markas lawan bukanlah hal sepele. Setiap laga punya atmosfernya sendiri, dan poin itu cukup berharga.
Memang, dalam laga di Ternate, Tomas Trucha tidak terlihat di bangku cadangan. Absensinya memicu spekulasi liar tentang masa depannya. Namun manajemen PSM bersikukuh pada pendirian: keputusan besar tidak boleh diambil dengan terburu-buru.
Di tengah hiruk-pikuk tuntutan, klub justru memilih pendekatan yang tenang dan komprehensif. Mereka fokus pada evaluasi menyeluruh dan menjaga stabilitas internal. Mungkin langkah ini tidak akan memberi perubahan instan. Tapi bagi PSM, dalam situasi krisis seperti ini, menjaga keseimbangan justru adalah langkah paling rasional.
Karena dalam sepak bola, yang seringkali dibutuhkan bukanlah keputusan tercepat. Melainkan, keputusan yang paling tepat.
Artikel Terkait
Artis Berduka Berkunjung ke Makam Vidi Aldiano di TPU Tanah Kusir
Herdman Panggil 41 Pemain untuk Persiapan FIFA Series, Era Baru Timnas Indonesia Dimulai
Pelatih Irak Desak FIFA Tunda Play-off Piala Dunia Akibat Konflik dan Penutupan Wilayah Udara
Malut United Terancam Sanksi Kandang Tanpa Penonton Usai Suporter Serang Wasit