Senin lalu, di sebuah kafe bernuansa hangat di lingkungan kantornya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, bertemu dengan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal. Pertemuan di Jakarta itu bukan sekadar silaturahmi biasa. Agenda utamanya membahas dua hal krusial: bagaimana memperkuat kualitas data sosial lewat Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dan persiapan program Sekolah Rakyat di NTB.
Gus Ipul langsung menekankan soal data. Menurutnya, data kesejahteraan itu hidup, terus bergerak. Makanya, pemutakhirannya harus jalan terus, tak boleh berhenti. Pemerintah, lewat berbagai cara, berusaha melibatkan masyarakat langsung dalam proses perbaikan ini.
"Perbaikan kualitas data DTSEN dilakukan melalui berbagai kanal, mulai dari SIKS-NG, Cek Bansos, ground check, call center 021-171, hingga WhatsApp Lapor Bansos 08877 171 171,"
ujar Gus Ipul.
Ia paham, tidak semua orang melek teknologi. "Bagi masyarakat yang tidak terbiasa menggunakan aplikasi, kami siapkan layanan call center dan WhatsApp agar tetap bisa menyampaikan laporan atau perbaikan data," tambahnya. Semua ini, katanya, adalah amanat dari Inpres Nomor 4 Tahun 2025. Tujuannya satu: memastikan bantuan sosial tepat sasaran.
Namun begitu, Gus Ipul tak menampik bahwa masih ada masalah. Pemetaan awal DTSEN menunjukkan keanehan. Ada warga di lapisan paling bawah yang justru belum mendapat bantuan iuran kesehatan (PBI-JK). Sebaliknya, yang dapat malah dari kelompok yang sebenarnya lebih mampu. "Ini bukan kesalahan siapa-siapa," tegasnya.
"Ini konsekuensi dari data yang dinamis dan memang harus terus kita perbaiki. Prinsipnya, bantuan negara harus diberikan kepada mereka yang paling membutuhkan, bukan kepada yang paling dulu tercatat."
Artikel Terkait
Rumah Sakit Soeharto Heerdjan Bantah Klaim Perawatan Paksa Pasien EO
Mojtaba Khamenei Resmi Ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Baru
KPK Larang ASN Terima atau Beri Hampers Jelang Lebaran
Banjir Lima Meter Rendam Periuk Tangerang, Brimob Evakuasi Warga dan Bagi Logistik