Iran Serang Kilang Minyak Bahrain, Produsen Minyak Terbaru yang Nyatakan Force Majeure

- Senin, 09 Maret 2026 | 18:40 WIB
Iran Serang Kilang Minyak Bahrain, Produsen Minyak Terbaru yang Nyatakan Force Majeure

Suasana tegas kembali menyelimuti kawasan Teluk. Senin (9/3) lalu, Iran melancarkan rentetan serangan baru, kali ini menyasar instalasi-instalasi minyak di sejumlah negara tetangganya. Salah satu target yang kena adalah kilang minyak di Bahrain.

Harga minyak dunia sendiri sudah meroket belakangan ini. Kekhawatiran akan pasokan yang terganggu jadi penyebab utamanya, terutama sejak ketegangan antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memanas lagi akhir Februari. Nah, serangan drone yang beruntun ini makin memicu ketidakpastian.

Menurut laporan AFP, fasilitas minyak Al Ma'ameer di Bahrain yang luas itu jadi sasaran. Serangan itu memicu kebakaran dan menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan. Akibatnya, perusahaan energi milik negara Bahrain, Bapco, tak punya pilihan lain.

Mereka terpaksa menyatakan force majeure.

"Dengan ini, kami menyampaikan pemberitahuan force majeure pada operasi grup yang telah terdampak konflik regional yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan serangan baru-baru ini terhadap kompleks kilang minyak,"

Begitu bunyi pernyataan resmi Bapco. Dengan langkah ini, Bahrain resmi menjadi negara produsen minyak terbaru di Teluk yang mengaktifkan klausul hukum tersebut. Sebelumnya, Qatar dan Kuwait sudah lebih dulu mengambil langkah serupa.

Gelombang serangan ini terjadi dalam situasi yang sudah sangat panas. Hanya beberapa jam sebelumnya, AS bahkan memerintahkan staf kedutaannya untuk segera meninggalkan Arab Saudi karena alasan "risiko keselamatan" yang tinggi. Iran sendiri terus menunjukkan taringnya, menembakkan rudal dan drone ke arah negara-negara Teluk.

Memang, pekan lalu sudah ada indikasi yang jelas. Serangan drone dilaporkan menargetkan gedung Kedutaan Besar AS di Riyadh. Tak hanya di Saudi, misi diplomatik AS di Kuwait dan Uni Emirat Arab juga mengalami kerusakan akibat serangan serupa. Situasinya makin runyam, dan pasar energi dunia menahan napas.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar