Nah, bandingkan dengan Ramos. Posisinya tunggal, fleksibilitas taktisnya terbatas, dan risiko adaptasinya terhadap iklim serta travel di Asia cukup tinggi. Kurzawa, di sisi lain, datang dengan profil yang terasa lebih “siap pakai” untuk konteks Persib.
Jangan salah, pengalaman Kurzawa juga bukan main-main. Dia pernah membela PSG dalam 154 pertandingan, jadi finalis Liga Champions, dan lima kali juara Ligue 1. Dari posisi bek, ia menyumbang 14 gol dan 23 assist. Ia juga punya 13 caps untuk Timnas Prancis.
Yang sering terlupakan: Kurzawa adalah bek modern dengan naluri menyerang yang kuat. Dia terbiasa dengan sistem pressing intensif dan transisi cepat elemen yang sangat dekat dengan gaya pelatih Bojan Hodak. ACL 2 nanti bukan ajang nostalgia. Lawan seperti Ratchaburi FC akan menuntut intensitas tinggi dan fullback yang lincah. Di level permainan seperti itu, Kurzawa justru bisa lebih “hidup”.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah manajemen risiko. Persib mengikat Kurzawa dengan kontrak pendek, plus opsi perpanjangan berdasarkan evaluasi. Ini keputusan yang cerdas.
Artinya, tidak ada beban finansial jangka panjang. Klub juga punya kendali penuh; jika performanya tak sesuai, tidak ada kewajiban mempertahankan. Coba bayangkan jika yang datang adalah Ramos. Tuntutan gaji pasti tinggi, ekspektasi publik melambung tak karuan, dan tekanan non-teknis di ruang ganti bisa jadi masalah. Dengan memilih Kurzawa, Persib mengambil jalan yang lebih dewasa.
Intinya, ini bukan soal anti bintang besar. Persib justru memilih bintang yang tepat. Kurzawa datang bukan untuk jadi poster iklan semata, melainkan sebagai alat kerja yang fungsional: menambah kedalaman skuad, memberi opsi taktik lebih banyak, menularkan pengalaman top-level Eropa, dan membantu Persib benar-benar bersaing di Asia.
Di sepak bola modern, keputusan terbaik seringkali bukan yang paling heboh di media sosial. Tapi yang paling tepat guna.
Jadi, begini kesimpulannya. Kalau tujuannya sekadar viral, Sergio Ramos adalah pilihan yang sempurna. Tapi kalau tujuannya adalah menang, stabil, dan punya daya saing kuat di Asia, maka Layvin Kurzawa adalah keputusan yang jauh lebih masuk akal. Dan musim ini, jelas terlihat bahwa Persib memilih untuk menjadi tim yang serius, bukan sekadar pembuat sensasi.
Artikel Terkait
Chelsea Guncang Dortmund dengan Keputusan Mendadak Tarik Anselmino
Kastaneer, Harapan Baru PSM untuk Bangkit dari Krisis
Herdman Berburu Amunisi Baru Timnas Indonesia ke Eropa
Komentar Instagram Ricky Kambuaya yang Bikin Jakmania Heboh