Dia dikenal sebagai pemain yang bisa mengubah jalannya pertandingan. Lincah di sayap kanan, kiri, atau sebagai gelandang serang. Pengalamannya di Malaysia bersama Selangor FC dan Kedah FA, bahkan trial di DC United AS, jadi modal berharga yang tak semua pemain punya.
Pertanyaan besarnya: apakah dia masih sesuai kebutuhan tim?
Bagi banyak Bonek, Andik adalah ikon di era sulit Persebaya, masa dualisme yang pelik. Memulangkannya dianggap sebagai bentuk apresiasi atas loyalitasnya dulu. Kehadirannya di ruang ganti bisa memantik semangat pemain-pemain muda.
Tapi ya, usianya 34. Mampukah ia melakukan pressing tinggi selama 90 menit penuh? Mungkin perannya lebih tepat sebagai “super sub”, senjata pamungkas di menit-menit akhir. Namun, jika tujuan manajemen adalah regenerasi, bisa jadi mereka lebih memilih mengandalkan talenta muda dari akademi.
Dengan harga Rp1,30 miliar, tentu perlu perhitungan matang. Apakah investasi itu sepadan dengan performa yang bisa dihadirkan? Slot pemain lokal di Persebaya sekarang sudah ketat. Kedatangan Andik harus betul-betul berdasarkan kebutuhan teknis, bukan sekadar memenuhi desakan suporter.
Ekspektasi Bonek yang melambung tinggi bisa jadi pedang bermata dua. Bisa memacu, tapi juga membebani seorang legenda yang ingin mengakhiri kariernya dengan manis. (")
Artikel Terkait
Kemenpora Buka Seleksi Terbuka untuk Posisi Deputi Industri Olahraga
Balas Dendam Korea Selatan Siap Uji Nyali Garuda Futsal di Indonesia Arena
Persis Solo Garap Lima Pemain Baru, Trio Serbia Jadi Andalan
Rizky Dwi Pangestu Pilih Garudayaksa FC demi Menit Bermain dan Ambisi Promosi