Air masih menggenang di mana-mana. Di Distrik Boane, Maputo, seorang warga hanya bisa terdiam memandangi rumahnya yang terendam. Keadaan itu terjadi setelah hujan lebat tak henti mengguyur wilayah itu selama berminggu-minggu.
Bukan cuma satu atau dua keluarga yang merasakan dampaknya. Menurut Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), angka korban mencapai lebih dari 620.000 orang. Bayangkan saja, itu setara dengan penduduk sebuah kota besar.
Kerusakannya pun luar biasa. Sekitar 72.000 rumah terendam banjir. Tidak berhenti di situ, infrastruktur vital seperti jalan dan jembatan turut hancur. Bahkan pusat-pusat kesehatan tak luput dari amukan air.
Bencana seperti ini sepertinya sudah jadi cerita lama bagi Mozambik. Para ilmuwan kerap menyoroti fakta pahit: negara di Afrika bagian selatan ini memang rawan dilanda bencana cuaca ekstrem. Dan semuanya, kata mereka, makin menjadi-jadi karena perubahan iklim.
Artikel Terkait
Prabowo Buka Suara di Davos: Dari Menolak Undangan hingga Pamer Prestasi Setahun Memimpin
Konten Pandji Pragiwaksono Soal Sholat Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
Live3D AI Face Swap: Ganti Wajah di Video Cuma Modal Browser, Tanpa Bayar
Prabowo di Davos: Antara Kebahagiaan Tertinggi dan Realita Pahit Rakyat