MURIANETWORK.COM – Lima orang kini mendekam di tahanan, mengawali babak baru penyidikan kasus korupsi pengadaan bibit nanas di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Nama yang paling mencolok adalah mantan Penjabat Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin.
Yang bikin banyak orang geleng-geleng adalah selisih angkanya. Proyek ini dianggarkan Rp 60 miliar, tapi menurut penyelidikan Kejaksaan Tinggi Sulsel, uang yang benar-benar dipakai beli bibit cuma sekitar Rp 4,5 miliar saja. Lalu, kemana sisa uang yang puluhan miliar itu?
Selain Bahtiar, empat orang lain juga sudah ditahan. Mereka adalah Rimawati Mansyur (55), Direktur PT AAN selaku penyedia, dan Rio Erdangga (40), Direktur PT CAP yang jadi pelaksana di lapangan.
Dua tersangka lainnya berasal dari lingkaran internal. Ada Hasan Sulaiman (51), yang dulu jadi tim pendamping Pj Gubernur periode 2023-2024. Lalu Ririn Ryan Saputra (35), seorang ASN di Pemkab Takalar. Satu orang lagi belum bisa ditahan karena alasan kesehatan.
Proyek Tanpa Proposal Jelas
Kajati Sulsel, Didik Farkhan Alisyahdi, membeberkan proyek ini dibiayai APBD Sulsel 2024. Tapi dari awal, mekanismenya sudah bermasalah.
Seharusnya, program pengadaan bibit ini melalui skema hibah ke kelompok tani. Kenyataannya? Proposal dan data penerima yang jelas saja tidak ada. Proyek besar bernilai puluhan miliar, tapi dasar pelaksanaannya terkesan asal-asalan.
Bibit Datang, Lalu Mati Sia-sia
Ceritanya makin runyam. Pelaksana proyek sempat mendatangkan empat juta bibit nanas dari luar Sulsel. Tapi, bibit-bibit itu ternyata tak punya tempat penyimpanan yang layak. Bahkan, tak bisa dititipkan di lahan PT Perkebunan Nusantara (PTPN).
Akibatnya bisa ditebak. Bibit yang seharusnya menghijaukan lahan justru mati mengering.
“Bibit yang datang 4 juta. Tidak bisa ditaruh di PTPN ada itu 3,5 juta bibit. Akhirnya, 3,5 juta itu mati,” ujar Kajati Didik Farkhan.
Puluhan Miliar Menguap
Nah, soal uangnya inilah yang paling menyakitkan. Dari total Rp60 miliar, nilai bibit plus ongkos angkut yang teridentifikasi hanya sekitar Rp4,5 miliar. Sisanya, diduga kuat tidak dipakai sesuai tujuannya.
BPKP masih menghitung kerugian negara secara resmi. Namun Didik Farkhan memperkirakan angkanya fantastis: lebih dari Rp50 miliar.
Uang Proyek Buat Beli Mobil
Yang lebih memiriskan, anggaran APBD itu seperti jadi bancakan. Sekitar Rp20 miliar dikelola pihak pelaksana, sementara Rp40 miliar lainnya ada di perusahaan penyedia, PT AAN.
Dana itu sempat dibawa ke Bogor dengan dalih cari bibit. Tapi penyidik menemukan fakta lain: sebagian uang dipakai beli mobil.
“Sudah kita telusuri semua kemana-mana. Dari sisa Rp20 miliar itu akhirnya ada uang Rp1,2 miliar dibelikan mobil. Ternyata mobil itu dijual, akhirnya kita sita dari penjualan mobil itu,” tegasnya.
Artikel Terkait
Boiyen Resmi Gugat Cerai Suami, Akui Hanya Tiga Minggu Jalani Rumah Tangga
Mahfud MD Ungkap Lawakan Rakyat Jelang Lengser Soeharto: Petani Minta Jangan Dikenal Sebagai Penolong Presiden
Pallu Kaloa, Hidangan Khas Sulawesi Selatan dengan Kuah Kluwek Hitam yang Kaya Rempah
Nadiem Makarim Bersaksi di Sidang Korupsi Chromebook, Guru dan Saksi Ahli Bela Efektivitas Perangkat