Setelah sepekan negara berkabung, Majelis Pakar Iran akhirnya memutuskan pengganti Ayatollah Ali Khamenei. Bukan nama yang terlalu mengejutkan: putra keduanya sendiri, Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, yang terpilih. Sang ayah tewas dalam serangan yang ditudingkan pada AS dan Israel. Kini, di usia 56 tahun, Mojtaba resmi memegang tampuk kepemimpinan tertinggi.
Pilihan ini jelas mengirim pesan kuat. Kelompok garis keras, rupanya, masih memegang kendali penuh di Teheran. Dari 88 ulama senior di majelis itu, suara mereka seragam mengarah padanya.
Salah satu anggotanya, Mohsen Heidari Alekasir, memberi penjelasan yang cukup gamblang lewat sebuah video.
"Bahkan Setan Besar telah menyebut namanya," ujarnya, merujuk pada pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang "tidak dapat diterima".
Menurut Alekasir, pemilihan ini mengikuti arahan mendiang Khamenei bahwa pemimpin haruslah "dibenci oleh musuh". Kriteria itu, tampaknya, terpenuhi dengan baik.
Sebenarnya, naiknya Mojtaba bukanlah fenomena yang tiba-tiba. Selama ini, di bawah bayang-bayang sang ayah, dia diam-diam mengumpulkan kekuasaan. Dia dikenal dekat dengan pasukan keamanan dan kerajaan bisnis besar yang mereka kendalikan. Posisinya sebagai "penjaga gerbang" ayahnya memberinya akses dan pengaruh yang luas di balik layar.
Dan hubungannya dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) sangatlah erat. Ini memberinya pengaruh tambahan yang merasuk ke seluruh aparatur politik dan keamanan negara. Bagi para reformis yang pernah berharap membuka hubungan dengan Barat, khususnya dalam isu nuklir, Mojtaba jelas bukan sekutu. Dia dikenal sebagai penentang garis keras mereka.
Kini, kekuasaan tertinggi ada di tangannya. Pemimpin tertinggi Iran memegang hak veto final atas segala urusan negara, dari kebijakan luar negeri hingga program nuklir yang selalu jadi bahan perdebatan dengan Barat. Iran bersikeras programnya hanya untuk sipil, sementara kekuatan Barat terus waspada.
Di sisi lain, tantangan dari dalam negeri mungkin lebih langsung terasa. Mojtaba harus berhadapan dengan warga yang, meski kerap ditindas secara brutal, terus menunjukkan gelora untuk kebebasan yang lebih besar. Unjuk rasa massal bukanlah hal yang mustahil.
Jalannya ke depan dipenuhi oleh warisan ayahnya, tekanan internasional, dan tuntutan rakyatnya sendiri. Mampukah dia mengelola semuanya? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Polisi Bekuk Dua Pelaku Penjambretan Ponsel WNA Jerman di Jakarta Pusat
HKI: KEK di Pulau Jawa Jadi Instrumen Strategis Percepat Target Pertumbuhan Ekonomi 8%
Gencatan Senjata Israel-Lebanon Diperpanjang Tiga Pekan, Namun Serangan di Lapangan Tewaskan Lima Orang Termasuk Jurnalis
Polisi Gagalkan Penyelundupan 1,9 Ton Sianida dari Filipina di Gorontalo Utara