IHSG Rebound Dua Hari Beruntun, BBCA Jadi Motor Penguatan di Tengah Aksi Jual Asing Rp3,13 Triliun

- Kamis, 11 Juni 2026 | 11:15 WIB
IHSG Rebound Dua Hari Beruntun, BBCA Jadi Motor Penguatan di Tengah Aksi Jual Asing Rp3,13 Triliun

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan penguatan signifikan dalam dua hari terakhir, mencatatkan rebound yang cukup tajam setelah sebelumnya mengalami tekanan jual yang ekstrem. Pada perdagangan Rabu (10/6/2026), indeks ditutup naik 2,71 persen ke level 5.902, sehari setelah melesat 7,57 persen. Salah satu motor utama di balik kenaikan ini adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang kembali mencatatkan aktivitas perdagangan paling ramai di pasar.

Nilai transaksi saham bank swasta terbesar itu mencapai Rp4,1 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 747,4 juta saham dan frekuensi transaksi sebanyak 122.371 kali. Pada sesi sebelumnya, BBCA juga menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, yakni Rp3,86 triliun. Lonjakan ini menunjukkan minat tinggi investor terhadap saham berkapitalisasi besar di tengah ketidakpastian pasar.

Analis Sinarmas Sekuritas, Yosua Zisokhi, menilai reli IHSG dalam dua hari terakhir cukup menarik karena terjadi di tengah derasnya aksi jual investor asing. Menurutnya, penguatan yang sangat cepat tersebut masih membutuhkan konfirmasi pada beberapa sesi perdagangan berikutnya.

“Apakah kenaikan ini akan berlanjut terus atau justru kembali melemah (false rebound), memang perlu dikonfirmasi pada perdagangan hari-hari berikutnya. Namun yang pasti, dalam dua hari terakhir, investor domestik tampak dominan dan pegang kendali,” kata Yosua.

Data perdagangan menunjukkan investor asing masih membukukan jual bersih (net foreign sell/NFS) sebesar Rp3,13 triliun pada Rabu. Tekanan jual terbesar tercatat di saham BBRI dan TPIA masing-masing sebesar Rp571,3 miliar dan Rp395 miliar. Meski menjadi sasaran aksi jual asing, saham BBRI tetap ditutup menguat 3,23 persen ke level Rp2.880. Sementara itu, saham TPIA berakhir turun 7,42 persen ke Rp1.810 setelah sempat melonjak pada sesi pertama perdagangan.

Total nilai transaksi di pasar reguler mencapai Rp31,7 triliun. Investor domestik membukukan transaksi beli sebesar Rp20,2 triliun, sedangkan investor asing mencatat pembelian Rp11,5 triliun dan penjualan Rp14,7 triliun. Hal ini menghasilkan jual bersih asing sebesar Rp3,13 triliun.

“Ini merupakan sinyal positif karena menunjukkan pulihnya persepsi atau kepercayaan investor terhadap prospek kinerja saham di Indonesia. Meski konsistensinya masih perlu diuji, tapi pencapaian dua hari terakhir ini patut diapresiasi,” katanya.

Yosua juga menyoroti performa BBCA yang dinilai menjadi salah satu indikator penting dalam fase pemulihan pasar saat ini. Setelah naik 6,19 persen pada perdagangan Selasa, saham BBCA kembali melesat 9,71 persen pada Rabu. Di sisi lain, tekanan jual asing di saham tersebut mulai berkurang dengan nilai jual bersih di pasar reguler hanya sekitar Rp36 miliar.

“Saat IHSG rebound setelah mengalami tekanan jual yang ekstrem, maka wajar jika investor institusi akan berbondong-bondong masuk ke saham blue chip yang salah harga. Saham perbankan seperti BBCA, BBNI, BMRI, dan BBRI menjadi salah satu pilihan utama karena memiliki kinerja keuangan yang sangat baik, fundamental kuat, dan konsisten membagi dividen,” katanya.

Meski demikian, Yosua mengingatkan bahwa volatilitas pasar masih berpotensi tinggi. Kenaikan indeks yang sangat tajam dalam dua hari terakhir belum diikuti arus masuk dana asing yang signifikan sehingga peluang terjadinya aksi ambil untung tetap terbuka.

“Tapi tekanannya tidak akan seberat pekan-pekan sebelumnya seiring tingginya komitmen otoritas fiskal dan moneter dalam memperbaiki keadaan. BI sudah menaikkan suku bunga acuan dua kali berturut-turut untuk menjaga nilai tukar, sementara pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi untuk mengurangi tekanan fiskal,” ujar dia.

Yosua melanjutkan, “Pemerintah juga sudah menyampaikan informasi yang lebih jelas terkait peran BUMN ekspor dalam konteks ekspor SDA strategis.” Menurutnya, kombinasi kebijakan yang lebih terarah dan komunikasi yang semakin jelas dari pemerintah maupun otoritas pasar dapat membantu memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar saham domestik.

Dalam situasi tersebut, investor lokal dinilai akan lebih fokus pada kualitas fundamental emiten dibandingkan mengikuti arus transaksi investor asing. “Jika wonderful company ini valuasinya sudah kelewat murah, salah harga, investor pasti berebut beli. Yang penting, situasi makronya terjaga baik,” katanya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar