Standar modal di Zurich Indonesia ternyata jauh lebih ketat daripada aturan yang ditetapkan pemerintah. Hal ini diungkapkan langsung oleh Edhi Tjahja Negara, Country Manager Zurich Indonesia yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk.
Dalam sebuah konferensi pers yang digelar Senin (9/3/2026) lalu, Edhi menjelaskan posisi perseroan. "Sejujurnya standar di Zurich Indonesia lebih tinggi," ujarnya. Ia melanjutkan, rasio risk-based capital (RBC) yang mereka pegang saat ini sudah menyentuh angka sekitar 300 persen. Padahal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hanya mematok batas minimal 120 persen untuk perusahaan asuransi.
Angka 120 persen dari OJK itu sendiri bukan tanpa alasan. Batas itu dibuat untuk memastikan perusahaan punya cukup daya tahan dalam menanggung risiko dan, yang tak kalah penting, membayar klaim nasabah. Tapi Zurich memilih untuk berjalan lebih hati-hati.
Di sisi lain, perseroan tak hanya unggul dalam rasio RBC. Mereka juga sudah berhasil memenuhi persyaratan ekuitas minimum tahap pertama. Aturan ini mewajibkan setiap perusahaan asuransi untuk memiliki modal minimum sesuai dengan jenis usahanya.
Zurich Indonesia saat ini mengelola tiga entitas: dua asuransi umum konvensional dan satu asuransi syariah. Untuk semua entitas itu, mereka sudah memenuhi modal minimum. Bahkan, optimisme tinggi terpancar untuk bisa memenuhi persyaratan modal tahap II dalam tahun ini juga.
Nah, soal tahap II ini, tenggat waktunya masih panjang, yaitu hingga akhir Desember 2028. Dalam periode itu, perusahaan asuransi diharuskan menyesuaikan modalnya sesuai skala usaha. Tapi Zurich tampaknya tak mau menunggu lama.
Optimisme itu juga diamini oleh Hilman Simanjuntak, Direktur Utama PT Zurich General Tafakul Indonesia. Menurutnya, pemenuhan modal tahap II bisa dicapai melalui kinerja internal perusahaan.
"Persyaratan 2028, saya pikir, tahun ini dapat terpenuhi lewat akumulasi profit," kata Hilman.
Ia juga menambahkan cadangan pengaman. "Namun, di luar itu pun Zurich Group sendiri sudah kuat secara modal, jadi kalau pun ada kebutuhan, akan didukung."
Jadi, selain mengandalkan laba bersih organik, kekuatan grup induk di level global siap menjadi penyangga jika diperlukan. Posisi mereka terlihat cukup solid.
Artikel Terkait
Kuartal I-2026: 633 Perusahaan Baru Bangun Pabrik, Serap 219.684 Tenaga Kerja dan Investasi Rp418 Triliun
Menlu Iran Tiba di Pakistan, Pertemuan Langsung dengan Delegasi AS Dipastikan Batal
Pedagang Rujak di Cirebon Berangkat Haji Setelah 27 Tahun Menyisihkan Recehan
Timnas Indonesia U-17 Hadapi China di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026, RCTI Siarkan Langsung