TEHERAN Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sudah mendarat di Islamabad, Pakistan, Jumat (24/4/2026). Tapi jangan keburu berharap banyak. Kunjungan ini, menurut laporan yang beredar, tidak akan menghasilkan kesepakatan damai dengan Amerika Serikat. Setidaknya, bukan sekarang.
Sebelum keberangkatannya, Juru Bicara Kemlu Iran, Esmail Baghaei, sempat bilang bahwa Araghchi bakal bertemu dengan pejabat tinggi Pakistan. Isinya? Ya, membahas gimana caranya mengakhiri konflik yang lagi panas-panasnya dengan AS. Tapi rupanya, Pakistan bukan satu-satunya tujuan. Araghchi juga dijadwalkan mampir ke Oman dan Rusia. Entah apa yang dibicarakan di sana, yang jelas ini semacam tur diplomatik kilat.
Di sisi lain, Gedung Putih juga tidak tinggal diam. Juru bicara mereka, Karoline Leavitt, mengumumkan bahwa Presiden Donald Trump sudah mengirim dua orang kepercayaannya: utusan khusus Steve Witkoff dan penasihatnya, Jared Kushner. Mereka dijadwalkan tiba di Pakistan pada Sabtu (25/4/2026). Tujuannya? Sama, untuk terlibat dalam pembicaraan dengan Iran.
Nah, ini yang agak aneh. Kantor berita Iran, Tasnim, tanpa menyebut dari mana mereka dapat info, melaporkan bahwa Araghchi tidak akan bertemu dengan delegasi AS di Pakistan. Bahkan di agenda resmi yang dikeluarkan Kemlu Iran, tidak ada satu baris pun soal pertemuan dengan Amerika. Jadi, apakah ini cuma sandiwara diplomatik? Atau memang ada skenario lain?
Menurut portal berita AS, Axios, yang mengutip dua sumber dari dalam Gedung Putih, pertemuan antara utusan Trump dan Araghchi kemungkinan baru terjadi pada Senin mendatang. Katanya, akan ada pertemuan pendahuluan dulu antara Witkoff dan Kushner dengan mediator dari Pakistan. Baru setelah itu, perundingan damai putaran kedua antara AS dan Iran bisa terlaksana. Semacam pemanasan, gitu lah.
Dalam perundingan nanti, delegasi AS kabarnya akan dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance. Sementara dari pihak Iran, ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf yang akan memegang kendali. Dua nama besar, dua posisi strategis.
Axios juga nambahin, pertemuan antara utusan Trump dan Araghchi itu sebenarnya cuma untuk membuka jalan. Fokusnya bukan pada kesepakatan besar, tapi lebih ke bagaimana memulai lagi pembicaraan damai yang sempat macet. Jadi, jangan kaget kalau hasilnya nanti cuma sebatas “kita sepakat untuk bertemu lagi”. Ya, namanya juga diplomasi, prosesnya panjang dan kadang membingungkan.
Artikel Terkait
Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026 Tembus 5,7 Persen
Kuartal I-2026: 633 Perusahaan Baru Bangun Pabrik, Serap 219.684 Tenaga Kerja dan Investasi Rp418 Triliun
Pedagang Rujak di Cirebon Berangkat Haji Setelah 27 Tahun Menyisihkan Recehan
Timnas Indonesia U-17 Hadapi China di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026, RCTI Siarkan Langsung