Menteri Lingkungan Hidup Sebut Longsor Sampah Bantargebang sebagai Alarm Keras

- Senin, 09 Maret 2026 | 09:45 WIB
Menteri Lingkungan Hidup Sebut Longsor Sampah Bantargebang sebagai Alarm Keras

Longsor sampah di Bantargebang, yang menewaskan empat orang, bukanlah peristiwa biasa. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebutnya sebagai alarm keras. Alarm yang seharusnya membangunkan semua pihak, terutama Pemprov DKI Jakarta, untuk segera mengakhiri praktik open dumping yang sudah usang dan berbahaya itu.

"Kejadian ini seharusnya tidak perlu terjadi," tegas Hanif dalam pernyataannya, Senin (9/3/2026).

Menurutnya, insiden Minggu lalu itu adalah bukti nyata kegagalan sistemik. Dan kegagalan semacam ini tak bisa lagi ditoleransi.

Bantargebang, dalam pandangannya, hanyalah puncak gunung es. Selama 37 tahun, tempat itu telah menampung beban mengerikan: 80 juta ton sampah. Metode pembuangan terbuka yang dipakai jelas-jelas melanggar aturan, menciptakan ancaman terus-menerus bagi nyawa warga dan petugas di lokasi. Tak heran, KLH/BPLH kini telah bergerak dengan penyidikan menyeluruh dan upaya penegakan hukum. Tujuannya satu: memastikan persoalan sampah Jakarta yang berlarut-larut ini tidak lagi memakan korban.

Nyatanya, sejarah di tempat itu suram. Ini bukan kali pertama. Sejak longsor pemukiman pada 2003, lalu runtuhnya Zona 3 di 2006 yang menimbun puluhan pemulung, pola kegagalan yang sama terus berulang. Awal tahun ini, landasan amblas dan menyeret tiga truk. Lalu, Maret ini, gunungan sampah itu runtuh lagi. Rangkaian insiden ini bicara lebih keras dari data mana pun: Bantargebang sudah kelebihan beban dan risikonya fatal.

Maka, Hanif pun bersikap tegas. Pihak yang lalai dan bertanggung jawab akan ditindak sesuai UU. Ancaman hukumannya tidak main-main: pidana 5-10 tahun plus denda miliaran rupiah bagi yang kelalaiannya menyebabkan kematian.

Sebenarnya, peringatan sudah kerap diberikan. Bahkan, pada 2 Maret lalu, Deputi Penegakan Hukum Lingkungan Hidup telah menerbitkan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan untuk sejumlah lokasi berisiko, termasuk Bantargebang. Sayangnya, peringatan itu seolah tak cukup.

Korban jiwa pun berjatuhan. Basarnas DKI mengonfirmasi empat nama: Enda Widayanti dan Sumine yang berjualan di warung, serta dua sopir truk, Dedi Sutrisno dan Irwan Suprihatin. Mereka adalah gambaran nyata dari risiko yang selama ini hanya jadi bahan peringatan di atas kertas.

Di sisi lain, tragedi ini mestinya jadi momentum untuk berbenah. Bukan sekadar mencari siapa yang salah, tapi bagaimana caranya menghentikan lingkaran setan ini. Sebelum gunungan sampah berikutnya runtuh dan memakan korban baru.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar