“Bukan hanya soal taktik dan performa, tetapi juga budaya, cara berpikir, bersikap, dan makna berada di klub ini.”
Sejauh ini, dalam tiga hari awal memimpin latihan, dia melihat respons yang positif. Para pemain, menurutnya, menunjukkan sikap terbuka dan keinginan untuk berbenah.
“Mereka mau mendengarkan, mau belajar, ingin tampil lebih baik untuk klub,” ujarnya.
Budaya klub, bagi Carrick, dibangun dari kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar slogan. “Cara bersikap dan bertindak itu yang harus kami bangun,” tambahnya.
Namun begitu, ujian sesungguhnya akan langsung datang. Manchester City, lawan mereka, datang dengan kondisi yang agak rumit. Mereka memang sedang dalam catatan tiga seri beruntun di liga, tapi baru saja menang meyakinkan 2-0 atas Newcastle di Piala Carabao. City juga punya motivasi besar: mengejar Arsenal di puncak klasemen yang kini unggul enam poin, sekaligus mengulang kemenangan 3-0 mereka atas MU di pertemuan pertama musim ini.
Menghadapi semua itu, Carrick kembali menekankan satu faktor kunci: suporter. Dia ingin Old Trafford kembali menjadi benteng yang menakutkan, tempat di mana magis itu benar-benar hidup dan mendorong timnya.
“Kami perlu menjadikan Old Trafford tempat yang lebih kuat lagi dengan dukungan suporter,” tutupnya.
“Di situlah magis yang ingin kami bangun.”
Artikel Terkait
Gavin Lee: Ujian Berat Lawan Indonesia Justru yang Diinginkan
Persija Rekrut Bomber Maroko, Transfer Kilat yang Mengejutkan
Janice Tjen Buka Suara: Kampus di AS Jadi Batu Loncatan Menuju Australian Open
Kekalahan Copa Picu Spekulasi: Klopp dan Rencana Heavy Metal di Bernabeu