Negara-Negara Arab dan Barat Serentak Kecam Serangan Balasan Iran di Timur Tengah

- Rabu, 04 Maret 2026 | 01:00 WIB
Negara-Negara Arab dan Barat Serentak Kecam Serangan Balasan Iran di Timur Tengah

Gelombang serangan balasan dari Iran melanda kawasan Timur Tengah. Ini semua berawal dari operasi gabungan militer AS dan Israel yang, menurut laporan, menewaskan Pemimpin Agung mereka, Ayatullah Ali Hosseini Khamenei, akhir pekan lalu. Kematian figur sentral itu jelas menjadi pemicu. Dan respon Teheran pun datang dengan cepat, serta terasa lebih agresif dari sebelumnya.

Mereka tak hanya menargetkan fasilitas militer AS di wilayah itu. Lebih dari itu, serangan udara juga menghantam kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, hingga memicu kobaran api. Suasana mencekam langsung menyebar di ibu kota Saudi itu di hari Selasa dini hari.

Di sisi lain, langkah-langkah Iran ini langsung memantik reaksi keras. Negara-negara Teluk, yang selama ini kerap bersitegang dengan Teheran, serentak mengutuk. Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, dan Yordania semuanya bersuara lantang mengecam apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran kedaulatan.

Arab Saudi, misalnya, lewat pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri-nya, menyebut serangan Iran sebagai "agresi terang-terangan". Riyadh dengan tegas menyatakan hal itu melanggar kedaulatan sejumlah negara tetangganya. Sikap yang kurang lebih sama datang dari UEA. Pemerintah di Abu Dhabi menilai serangan itu bukan cuma langkah provokatif, tapi juga melenceng dari hukum internasional dan piagam PBB.

“Kami punya hak penuh untuk membela diri,” begitu kira-kira bunyi pernyataan mereka, merujuk pada Pasal 51 Piagam PBB. Nuansa defensif yang kuat terasa di sini.

Kuwait, yang pangkalan udara Ali Al Salem-nya jadi sasaran, juga bersuara nyaring. Qatar tak ketinggalan. Lewat sebuah unggahan di media sosial X, pemerintah Doha menyatakan kutukan kerasnya. Mereka bilang, serangan rudal balistik itu adalah bentuk eskalasi yang benar-benar tak bisa diterima, mengancam stabilitas kawasan yang sudah rapuh.

Sementara itu, dari Yordania, protes keras disampaikan langsung oleh juru bicara Kemenlu mereka, Fouad Al-Majali.

“Kami menuntut penghentian segera seluruh serangan ini,” katanya, menekankan hak Yordania untuk melindungi warganya dan kedaulatannya.

Data dari Kementerian Dalam Negeri Yordania mencatat, setidaknya ada 73 insiden jatuhnya serpihan rudal di berbagai wilayah mereka bukti nyata betapa dekatnya ancaman itu.

Tak cuma negara-negara Arab. Kekuatan Barat pun ikut angkat bicara. Inggris, Prancis, dan Jerman bergerak hampir berbarengan. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bahkan menyetujui pengiriman jet tempur Typhoon ke Qatar, sebagai bentuk perlindungan untuk pangkalan sekutu. Meski bilang tak ingin eskalasi meluas, Starmer dan para pemimpin Eropa lainnya tetap bersikeras: Iran tidak boleh dibiarkan mengembangkan senjata nuklir.

Presiden Prancis Emmanuel Macron bersuara lebih gamblang. Ia menilai eskalasi ini berbahaya untuk semua pihak dan harus dihentikan. Lewat akun X-nya, Macron mendesak diadakannya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB.

“Rezim Iran tidak punya pilihan lain selain berunding dengan itikad baik,” tegasnya, menyerukan jalan diplomatik untuk mengakhiri program nuklir Iran.

Pada akhirnya, situasinya runyam. Serangan balasan Iran telah memecah kesunyian diplomatik yang rentan di Timur Tengah. Sekarang, semua mata tertuju pada langkah berikutnya dari Teheran dan bagaimana komunitas internasional, yang kini tampak bersatu dalam kecaman, akan bertindak lebih jauh. Ketegangan masih menggantung, dan ancaman konflik yang lebih luas terasa nyata di udara.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar