Sudah lama rasanya tak menulis. Dunia ini, ya, kadang serasa hanya tentang hiruk-pikuk dan kesibukan yang tak jelas ujungnya. Terakhir saya ambil pena, gara-garanya sederhana: tulisan di label camilan anak saya terlalu kecil, nyaris mustahil dibaca. Padahal, itu kan semacam alarm, peringatan buat saya, buat kamu, buat kita semua para orang tua. Intinya: lebih perhatikan apa yang masuk ke mulut anak-anak kita.
Suasana sore itu sendu. Pikiran melayang ke kejadian seminggu lalu. Suami mengirimkan foto lengan sulung saya, ada coretan hitam bekas tusukan pensil. Di tengah riuhnya kantor, saya seorang ibu baru berusaha tetap kalem. Saya kirim pesan suara, tanya si kecil ceritanya bagaimana. Dengan riang, dia bercerita: habis main, dia tusuk-tusuk lengan temannya pakai pensil tumpul, lalu dibalas temannya itu dengan pensil tajam. Mendengar ceritanya yang ceria, dan tak ada kabar lanjutan dari ayahnya, saya pun kembali tenang, tenggelam dalam setumpuk laporan.
Pulang kerja, macet, ditambah gerimis sepanjang jalan. Rencana cuma satu: main dengan si kecil. Tapi begitu lihat lengannya, hati saya langsung ciut. Lukanya meradang, bengkak, dan karbon pensil itu tertancap dalam. Susah dikeluarkan. Dia meringis menahan sakit. "Potek hati Amma, Nak," gumam saya. Setelah beberapa usaha, akhirnya sebagian besar kotoran itu bisa dibersihkan.
Perasaan campur aduk. Saya nasihati dia lagi: jangan main yang bahaya, jangan sakiti orang. Tak lupa, saya ingatkan untuk minta maaf pada temannya. Tapi dia malah beralasan, "Tapi 'kan dia sudah balas, Ma. Buat apa minta maaf?"
Kesabaran saya yang tipis itu diuji. Saya coba jelaskan dengan nada yang naik turun, bahwa minta maaf itu soal menurunkan ego. Tidak ada ruginya. Justru kebaikan yang akan didapat. Hari itu, saya peluk dia erat. Saya rapal doa, semoga Allah selalu menjaganya, karena kehadiran saya tak mungkin selamanya.
Keesokan paginya, cerah. Saya baru nyalakan laptop, sarapan belum habis. "Tring!" Ada pesan dari guru sulung saya. Isinya foto anak saya menangis, dengan benjol sebesar bola tenis di jidatnya.
Guru itu menjelaskan panjang lebar: dia terpental, menghantam tiang bendera, setelah ditubruk teman yang berlari kencang.
Hati saya langsung remuk. Langsung saya hubungi orang tua untuk menjemputnya secepatnya. Tak perlu banyak tanya, yang penting dia dapat penanganan yang tepat.
Dua hari setelahnya, dia tidak masuk sekolah. Katanya, masih pusing. Obat pereda nyeri pun sepertinya tak cukup. Sampai hari ini, matanya masih lebam. Di sudut malam yang sunyi, saya menangis, memohon pada Sang Penyembuh.
Berkali-kali saya tanya padanya, "Apakah temanmu itu sudah minta maaf?"
"Enggak," jawabnya singkat.
Kecewa? Tentu saja. Permintaan maaf yang sederhana saja tak datang. Ini bukan soal si anak, tapi lebih pada pembiasaan. Rupanya, kebiasaan baik itu tak tumbuh di lingkungan terdekat anak saya.
Saya percaya, tiga kata ajaib tolong, terima kasih, maaf bisa jadi fondasi hidup yang baik. Bagaimana kita membiasakannya dalam keseharian, itu yang penting.
Itu juga yang saya coba tanamkan pada sulung saya. Mudah? Jangan ditanya. Penolakannya kerap muncul, apalagi di usianya yang masih balita. Ego "aku"-nya masih sangat besar.
Kejadian ini, ditambah kekecewaan karena sekolah tak memfasilitasi permintaan maaf, akhirnya mendorong saya menulis. Menerjemahkan kegelisahan ini. Saya hanya berharap, anak saya tumbuh jadi pribadi yang welas asih, pandai bersyukur, dan berani mengakui kesalahan.
Dan semoga juga, di luar sana, di negeri ini, masih ada ruang untuk kata "maaf" dari mereka yang berkuasa. Bukan karena dipaksa atau dimaki, tapi datang dari kesadaran sendiri. Agar anak saya, dan semua anak, bisa tumbuh di lingkungan terbaik, di mana tiga kata ajaib itu masih berarti.
Artikel Terkait
Fox Sports Buka Lowongan ‘Chief World Cup Watcher’ dengan Bayaran Rp870 Juta untuk Tonton 104 Pertandingan
Erin Taulany Bantah Aniaya ART, Herawati Laporkan Dugaan Pencekikan hingga Gaji Rp3 Juta Tak Dibayar
Polda Metro Jaya Perpanjang Penahanan Richard Lee 30 Hari, Bantah Isu Penangguhan
Jumlah Mahasiswa Asing di China Melonjak Jadi 380.000, Didominasi Asia dan Afrika