Ulil Abshar dan Dosa Moral di Balik Bencana Sumatera

- Selasa, 02 Desember 2025 | 05:20 WIB
Ulil Abshar dan Dosa Moral di Balik Bencana Sumatera

Kenapa Ulil Abshar Abdalla Dianggap "Bersalah" Atas Bencana di Sumatera

Mungkin Ulil tidak pernah menyentuh alat berat atau mengoperasikan tambang. Tapi, dalam gelombang kemarahan publik pasca bencana di Sumatera, nama cendekiawan muslim ini justru kerap disebut. Kenapa? Semuanya bermula dari posisi wacananya.

Ketika dia menyatakan aktivitas tambang itu halal, pernyataan itu bergema keras. Sayangnya, dalam pernyataan tersebut, hampir tak ada celah untuk membahas kerusakan ekologis yang sudah terlihat jelas di lapangan. Bukit-bukit gundul, aliran sungai yang keruh, hutan yang menyusut semua itu seolah tak menjadi pertimbangan utama.

Di mata warga yang rumahnya hanyut atau sawahnya terkubur lumpur, ucapan Ulil terdengar seperti pembenaran moral. Sebuah legitimasi bagi industri yang selama ini mereka tuding sebagai biang keladi. Maka, meski tangannya bersih dari tanah galian, pikirannya dianggap telah memihak.

Logika masyarakat korban sebenarnya sederhana. Mereka kehilangan segalanya. Pelaku tambang dituding sebagai penyebabnya. Sementara itu, Ulil berdiri di sisi yang membenarkan tambang. Garisnya jadi jelas, bukan?

Wajar saja kemudian publik menghubungkan dia dengan bencana itu. Bukan dalam arti fisik, tentu. Tapi lebih pada ranah dukungan moral dan wacana. Di tengah kepedihan yang mendalam, suara yang dianggap mendukung "lawan" akan terasa sangat menyakitkan.

Di sisi lain, peran tokoh agama dalam isu lingkungan memang selalu punya bobot tersendiri. Pengaruhnya besar. Ketika dia memilih untuk berada di barisan yang dalam persepsi banyak orang bertentangan dengan korban, konsekuensinya harus diterima. Kemarahan itu adalah resikonya.

Pada akhirnya, ini soal pilihan dan solidaritas. Dan di Sumatera, solidaritas itu sedang ditujukan kepada mereka yang kehilangan.

(Kang Irvan Noviandana)

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar