Wajar saja kemudian publik menghubungkan dia dengan bencana itu. Bukan dalam arti fisik, tentu. Tapi lebih pada ranah dukungan moral dan wacana. Di tengah kepedihan yang mendalam, suara yang dianggap mendukung "lawan" akan terasa sangat menyakitkan.
Di sisi lain, peran tokoh agama dalam isu lingkungan memang selalu punya bobot tersendiri. Pengaruhnya besar. Ketika dia memilih untuk berada di barisan yang dalam persepsi banyak orang bertentangan dengan korban, konsekuensinya harus diterima. Kemarahan itu adalah resikonya.
Pada akhirnya, ini soal pilihan dan solidaritas. Dan di Sumatera, solidaritas itu sedang ditujukan kepada mereka yang kehilangan.
(Kang Irvan Noviandana)
Artikel Terkait
Tokyo Lumpuh: Ratusan Ribu Komuter Terjebak Gangguan Kereta 9 Jam
Jual Motor Curian di Facebook, Dua Pelaku Malah Ketemu Korban
Penyidikan Kasus Ijazah Jokowi Dihentikan, Muncul Kritik Penyalahgunaan Kekuasaan
Mendagri Tito Panggil Menteri Turun Tangan, Genjot Pemulihan Pascabencana Sumatera