Berita tentang penutupan Selat Hormuz oleh Iran tentu saja membuat gempar. Bagi dunia pelayaran dan energi, ini bukan sekadar isu regional, tapi ancaman langsung pada jalur perdagangan global yang paling vital. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) justru menyuarakan ketenangan.
Direktur Utama HUMI, I Gusti Askhara Danadiputra, dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada satu pun kapal mereka yang terdampak langsung atau terpaksa berhenti operasi. "Tidak terdapat kapal yang terdampak langsung atau terpaksa berhenti dan tidak ada kapal-kapal perseroan di wilayah yang berisiko," ujarnya dalam keterbukaan informasi ke BEI, Selasa lalu.
Pernyataan itu sekaligus meredam kekhawatiran investor. Tapi, apa artinya bagi operasional mereka ke depan?
Menurut Askhara, kunci menghadapi gejolak geopolitik semacam ini terletak pada fokus. HUMI, melalui anak usahanya, memastikan layanan untuk pasar dalam negeri tetap berjalan. PT GTS Internasional Tbk (GTSI) yang mengangkut LNG dan PT PCS Internasional (PCSI) di segmen oil and chemical, disebutnya terus memperkuat peran dalam mendukung kebutuhan energi domestik.
"Fokus layanan pada pasar dalam negeri memberikan fondasi stabil di tengah fluktuasi eksternal," kata Askhara.
Di sisi lain, strategi ekspansi armada juga terus berjalan, meski dengan cara yang lebih terukur. Penambahan aset secara bertahap ditujukan untuk memperkuat kapasitas dan meningkatkan fleksibilitas operasional. Yang menarik, mereka juga mengoptimalkan integrasi dengan infrastruktur dalam negeri, seperti FSRU dan terminal distribusi. Pendekatan portofolio yang terdiversifikasi ini, klaim Askhara, bukan cuma memperkuat ketahanan energi nasional, tapi juga jadi tameng dari volatilitas harga global.
Lantas, bagaimana situasi di Selat Hormuz sebenarnya bisa sedemikian mencekam?
Eskalasi ini berawal dari serangan AS dan Israel ke Iran akhir pekan lalu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei. Iran pun membalas. Rudal-rudal diluncurkan ke Israel dan sejumlah negara Teluk yang menjadi basis militer AS. Tak ketinggalan, Hizbullah di Lebanon ikut bersuara siap membela.
Nah, ancaman penutupan selat itu sendiri datang langsung dari seorang komandan Garda Revolusi Iran. Penasihat Senior untuk Panglima Tertinggi IRGC, Ebrahim Jabbari, bersikap sangat keras.
"Selat itu ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal itu," ancam Jabbari, Selasa lalu.
Dia bahkan tak berhenti di situ. Jabbari mengancam akan menyerang jalur pipa minyak, sebuah langkah yang diprediksi akan melambungkan harga minyak hingga menyentuh angka fantastis: USD200 per barel.
"Kami juga akan menyerang jalur pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini. Harga minyak akan mencapai USD200 dalam beberapa hari mendatang," tegasnya.
Pesan untuk AS pun diselipkan. "Amerika Serikat, dengan utang miliaran dolar, bergantung pada minyak di kawasan ini, tetapi mereka harus tahu bahwa bahkan setetes minyak pun tidak akan sampai kepada mereka," ujar Jabbari.
Ancaman ini jelas bukan main-main. Selat Hormuz, yang diapit Iran dan Oman, adalah urat nadi minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global atau setara 21 juta barel per hari harus melewati selat sempit ini. Gangguan sekecil apa pun di sana sudah pasti akan memicu kepanikan pasar dan mendorong harga minyak mentah melambung tinggi, di tengah kekhawatiran eskalasi yang kian menjadi.
Jadi, sementara dunia menahan napas menunggu perkembangan di Teluk Persia, perusahaan seperti HUMI berusaha mencari pijakan yang aman. Mereka bergerak dengan hati-hati, mengandalkan pasar domestik sebagai bantalan, sambil memandang situasi global yang tak menentu ini dengan penuh kewaspadaan.
Artikel Terkait
BFIN Alokasikan Seluruh Saham Treasuri untuk Program MESOP Karyawan
CIMB Niaga Bagikan Dividen Tunai Rp4,07 Triliun pada Mei 2026
Pemegang Saham Setujui Stock Split 1:2 Saham ITSEC Asia
ITSEC Asia Dapat Restu Pemegang Saham untuk Stock Split 1:2