Serangan AS-Israel Tewaskan Ayatollah Khamenei dan Ratusan Warga Sipil, Iran Balas dengan Rudal

- Rabu, 04 Maret 2026 | 01:00 WIB
Serangan AS-Israel Tewaskan Ayatollah Khamenei dan Ratusan Warga Sipil, Iran Balas dengan Rudal

JAKARTA – Dunia kembali menahan napas. Aksi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menggempur Iran memicu gelombang kecaman yang luas. Serangan udara ke Teheran itu dikabarkan menelan korban jiwa yang sangat besar, termasuk meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.

Bukan cuma infrastruktur yang hancur lebur. Data yang beredar menyebutkan, setidaknya 742 warga sipil Iran tewas dalam agresi tersebut. Angka yang sungguh memilukan. Lebih dari 900 orang lainnya mengalami luka-luka, memperpanjang daftar duka di negara itu.

Iran pun tak tinggal diam. Balasan datang dengan cepat, berupa hujan rudal yang diarahkan ke wilayah Israel dan beberapa instalasi militer AS yang bertebaran di Timur Tengah. Ketegangan yang sudah memanas pun langsung meledak.

Menyikapi hal ini, Ketua Umum Pimpinan Pusat Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII), Nasrullah Larada, menyuarakan kecamannya dengan keras.

"Apa yang Trump dan Netanyahu lakukan, yang berbuntut perang di Timur Tengah jadi berkepanjangan, adalah melakukan kejahatan peradaban," tegasnya kepada media, Selasa (3/3/2026).

Di sisi lain, Nasrullah mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera turun tangan. Konflik yang kian membara ini, menurutnya, butuh intervensi dunia sebelum segalanya terlambat.

Ia juga menyerukan solidaritas. Negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah, dalam pandangannya, harus bersatu melawan aksi pembunuhan massal yang dilakukan oleh Netanyahu. "Negara-negara Islam harus bersatu memberikan pelajaran," serunya.

Menurut Nasrullah, respons balasan Iran sebenarnya sah adanya. Serangan mereka ke pangkalan militer AS dan posisi strategis Israel itu, tuturnya, adalah tindakan yang konstitusional dan sepenuhnya sah di mata hukum internasional. Sebuah langkah mempertahankan diri di tengah agresi yang datang lebih dulu.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar