Tapi jangan salah, ancaman kenaikan suku bunga masih nyata. The Fed tetap waspada kalau inflasi bandel dan nggak mau turun ke target. Mayoritas anggota FOMC menilai risiko inflasi tinggi masih mengintai.
Dan konflik Timur Tengah ini memperburuk semua itu.
“Konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang lebih persisten,” jelas Josua.
“Biaya input yang melambung bisa menekan inflasi inti, situasinya jadi rumit.”
Dengan mempertimbangkan semua faktor tadi, perkiraan untuk rupiah ke depan cukup berhati-hati. Josua memproyeksikan mata uang kita akan bergerak dalam kisaran yang cukup luas, antara Rp17.000 hingga Rp17.125 per dolar AS. Semuanya kembali pada bagaimana ketegangan global ini berkembang dalam beberapa hari ke depan.
Artikel Terkait
Kebijakan WFH Jumat Berdampak, Arus Lalu Lintas Medan Turun 20 Persen
Bonjowi Klaim Empat Dokumen Krusial Jokowi Hilang dari Arsip KPU DKI
Medan Terapkan WFH Setiap Jumat, Targetkan Penghematan BBM 20 Persen
Presiden Prabowo Lantik Andi Rahadian Jadi Dubes untuk Oman dan Yaman