MUI Lampung Bagikan Contoh Khutbah Jumat tentang Menjaga Semangat Ibadah Pasca-Ramadan

- Jumat, 10 April 2026 | 02:00 WIB
MUI Lampung Bagikan Contoh Khutbah Jumat tentang Menjaga Semangat Ibadah Pasca-Ramadan

Maka, lewat khutbah ini, mari kita tilik kembali perjalanan ibadah kita di Ramadan. Jadikan itu modal dan motivasi. Agar pasca-Ramadan, grafik ibadah kita tidak turun, tapi stabil atau malah naik. Mengaca pada masa lalu penting untuk menyongsong masa depan. Allah berfirman dalam Surat Al-Hasyr ayat 18:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sebenarnya, semangat peningkatan itu sudah tersirat dari makna ‘Syawal’ sendiri. Secara bahasa, ‘Syawal’ berasal dari kata ‘syala’ yang artinya ‘meningkat’. Itu harus jadi inspirasi kita: mempertahankan grafik ibadah pasca-Ramadan. Caranya? Butuh upaya serius, yang bisa kita sebut dengan 3M: Muhasabah, Mujahadah, dan Muraqabah.

Pertama, Muhasabah. Ini soal introspeksi. Evaluasi total perjalanan ibadah kita selama Ramadan. Tanyakan pada diri: Sudah benarkah niat kita? Apa yang membuat kita semangat waktu itu? Adakah kewajiban yang kita langgar? Pertanyaan-pertanyaan jujur semacam ini akan memotivasi kita untuk memperbaiki diri. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya…” (HR. Tirmidzi).

Kedua, Mujahadah. Artinya bersungguh-sungguh. Berjuang keras untuk mempertahankan kebiasaan positif Ramadan di bulan-bulan berikutnya. Perjuangan ini tak mudah. Tantangan dari luar dan dari dalam diri sendiri pasti ada. Butuh tekad baja. Allah janjikan jalan bagi yang bersungguh-sungguh, seperti dalam Surat Al-‘Ankabut ayat 69: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…”

Ketiga, Muraqabah. Merasa selalu diawasi oleh Allah. Kesadaran ini akan menumbuhkan kewaspadaan dan semangat taat. Ini ciri orang bertakwa. Rasulullah SAW mengajarkan: “Beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari). Nilai muraqabah ini seharusnya sudah mengakar, karena tujuan puasa Ramadan sendiri adalah untuk mencapai ketakwaan (QS. Al-Baqarah: 183).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikian khutbah ini. Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan, kualitas ibadah kita setelah Ramadan. Lewat Muhasabah, Mujahadah, dan Muraqabah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Khutbah Kedua

(Surya Mahmuda)

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar