MUI Lampung Bagikan Contoh Khutbah Jumat tentang Menjaga Semangat Ibadah Pasca-Ramadan

- Jumat, 10 April 2026 | 02:00 WIB
MUI Lampung Bagikan Contoh Khutbah Jumat tentang Menjaga Semangat Ibadah Pasca-Ramadan

Menjelang akhir Syawal 1447 H, para khatib mungkin sedang mencari bahan. Topik tentang menjaga semangat ibadah pasca-Ramadan selalu relevan. Bagi umat Islam, bulan Syawal ini sebenarnya momen krusial. Ini saatnya kita mempertahankan, atau bahkan meningkatkan, intensitas ibadah setelah sebulan penuh 'digembleng' di Ramadan.

Nah, sebagai gambaran, berikut ini contoh teks khutbah Jumat untuk esok hari, Jumat 10 April 2026 atau 21 Syawal 1447 H. Teks ini ditulis oleh H. Muhammad Faizin, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung, yang dikutip dari laman Kemenag. Mudah-mudahan bisa jadi rujukan.

Khutbah Pertama

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam. Nikmat-Nya yang tercurah tak terhitung, termasuk nikmat iman dan takwa yang membuat kita tetap merasakan manisnya Islam. Hanya kalimat syukur, Alhamdulillahirabbil ‘alamin, yang layak kita ucapkan. Dan percayalah, dengan syukur itu, Allah janji akan menambah nikmat-Nya.

Allah berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’”

Syukur itu mesti nyata. Diwujudkan dengan menguatkan ketakwaan: menjalankan perintah, menjauhi larangan-Nya. Dengan begitu, kita akan selalu dapat perlindungan dan petunjuk-Nya. Hidup ini, pada hakikatnya, adalah untuk beribadah. Seperti dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kita baru saja melewati Ramadan. Bulan itu jadi momentum puncak, di mana kuantitas dan kualitas ibadah kita melesat. Puasa, shalat, tilawah Qur’an, sedekah semua serba intensif. Semangat itu sejalan dengan kemuliaan Ramadan yang penuh keberkahan. Bulan itu ibarat pelatihan rohani untuk mendekatkan diri pada Sang Khalik.

Tapi apa yang terjadi setelahnya? Ini pertanyaan yang harus kita tujukan pada diri sendiri. Apakah semangat itu bertahan? Atau kita kembali pada ritme lama, ibadah seadanya? Apakah buah takwa dari puasa Ramadan benar-benar kita rasakan? Hanya kita yang bisa menjawabnya. Ini bahan muhasabah.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar