Di Sentul, Bogor, Kamis lalu, suasana cukup berbeda. Acara penandatanganan kerjasama antara Ikatan Alumni Universitas Terbuka dan Kemenko PMK justru diwarnai peringatan serius dari Menko Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar. Cak Imin, panggilan akrabnya, menyoroti sebuah tren yang mengkhawatirkan: jumlah penduduk rentan miskin di Indonesia ternyata makin bertambah.
Menurutnya, krisis ekonomi global jadi salah satu pemicu utama. Tapi sebenarnya, ini bukan satu-satunya masalah.
"Jumlah kelompok rentan masih sangat besar dan meningkat di tengah berbagai tantangan dan krisis, nasional maupun ekonomi di tingkat global," ujar Cak Imin dalam sambutannya.
"Penduduk rentan miskin hari ini juga naik karena faktor-faktor yang melingkupi baik krisis ekonomi global maupun berbagai tantangan yang sedang kita hadapi."
Goncangan itu, lanjutnya, terasa sampai ke kelas menengah. Kelompok ini disebutnya sedang berada di bawah tekanan yang berat. Negara pun berupaya mati-matian agar mereka tidak sampai "turun kelas".
"Kelas menengah kita adalah kelas yang memiliki kerentanan akibat goncangan ekonomi yang bersumber dari berbagai masalah baik nasional maupun di tingkat global," jelasnya.
Namun begitu, Cak Imin tak hanya menyalahkan faktor eksternal. Dia melihat akar masalahnya juga berasal dari pilihan agenda pembangunan yang diambil negeri ini beberapa dekade silam. Itulah mengapa, kata dia, Presiden Prabowo mengusung istilah "transformasi".
"Transformasi artinya terjadi perubahan terus menerus tiada henti dengan berbagai pengalaman dan proses yang berlangsung untuk tidak mengulangi kegagalan di masa lampau," bebernya.
Di sisi lain, situasi geopolitik dunia yang berubah-ubah menuntut suatu pendekatan baru. Masyarakat diajak untuk kembali kepada konstitusi, dengan semangat berdiri di atas kaki sendiri.
Artikel Terkait
BPK Mulai Audit LKPD Bangka Belitung, Fokus pada Belanja Barang dan Proyek
Kejagung Tetapkan 7 Tersangka Korupsi Petral, Diduga Picu Kenaikan Harga BBM
Persib Waspadai Bali United yang Berangkat dengan Moral Tinggi ke GBLA
Kejagung Tetapkan 7 Tersangka Korupsi Petral, Diduga Mark-up Harga Minyak 2008-2015